Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendikti Saintek) Brian Yuliarto mengungkapkan fakta menarik tentang komposisi mahasiswa di Indonesia. Dalam pembukaan Konvensi Pendidikan Indonesia XII Tahun 2026 di Universitas Pendidikan Ganesha, Bali, pada 2 Oktober 2026 lalu, ia menyampaikan bahwa jumlah mahasiswa terbanyak berasal dari program studi (prodi) pendidikan. "Jumlah mahasiswa program studi pendidikan itu juga paling tinggi. Ada 3,13 juta (mahasiswa)," kata Brian, dikutip dari tayangan ulang pada laman YouTube Undiksha, Senin (5/10/2026). Data ini memberikan gambaran tentang arah minat studi generasi muda Indonesia, sekaligus menjadi refleksi bagi dunia pendidikan tinggi dan pembangunan bangsa.
Brian juga menyoroti bahwa jumlah mahasiswa teknik hanya 1,69 juta orang, dan jumlah tersebut terus menurun, terutama di bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM). Mahasiswa Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) juga terbilang sedikit, yakni hanya sekitar 180.000 mahasiswa di seluruh Indonesia. "Teknik itu hanya 1,69 juta, selanjutnya (angkanya) turun-turun. MIPA lebih kecil lagi 180.000 (mahasiswa)," ujarnya. Fakta ini menjadi perhatian serius karena Indonesia sedang berupaya keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap) dan membutuhkan lebih banyak talenta di bidang STEM.
Prodi dengan Jumlah Mahasiswa Terbanyak
Berdasarkan pemaparan Brian, berikut daftar jumlah mahasiswa di Indonesia berdasarkan rumpun program studi:
-
Pendidikan: 3,13 juta mahasiswa
-
Sosial: 2,32 juta mahasiswa
-
Ekonomi: 2,08 juta mahasiswa
-
Teknik: 1,69 juta mahasiswa
-
Kesehatan: 1,16 juta mahasiswa
-
Pertanian: 487.000 mahasiswa
-
Agama: 309.000 mahasiswa
-
Humaniora: 202.000 mahasiswa
-
MIPA: 180.000 mahasiswa
-
Seni: 118.000 mahasiswa
Data ini menunjukkan bahwa rumpun ilmu sosial, pendidikan, dan ekonomi mendominasi jumlah mahasiswa di Indonesia. Sementara itu, rumpun STEM seperti teknik dan MIPA berada di bawahnya, dengan jumlah yang jauh lebih kecil. Bahkan, MIPA hanya menampung 180.000 mahasiswa, sementara seni 118.000 mahasiswa. Ketimpangan ini menimbulkan pertanyaan: mengapa minat terhadap STEM masih rendah, padahal kebutuhan industri dan pembangunan nasional sangat besar?
Pendidikan dan Sosial Mendominasi
Ada beberapa alasan mengapa prodi pendidikan, sosial, dan ekonomi memiliki jumlah mahasiswa terbanyak. Pertama, aksesibilitas. Prodi-prodi ini tersedia di hampir semua perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, di berbagai daerah. Kedua, biaya kuliah yang relatif lebih terjangkau dibandingkan prodi teknik atau kedokteran. Ketiga, persepsi bahwa prodi sosial dan pendidikan memiliki tingkat kesulitan yang lebih rendah. Keempat, peluang kerja yang dianggap luas, terutama sebagai guru, dosen, pegawai negeri, atau pekerja sosial. Kelima, kurangnya informasi tentang prospek karier di bidang STEM. Banyak siswa yang belum memahami bahwa lulusan STEM memiliki peluang besar di industri 4.0, energi terbarukan, teknologi pangan, dan ekonomi digital.
Namun, dominasi prodi pendidikan juga bisa dilihat dari sisi positif. Indonesia membutuhkan banyak guru untuk mencerdaskan bangsa. Dengan 3,13 juta mahasiswa pendidikan, pasokan tenaga pendidik di masa depan cukup besar. Namun, tantangannya adalah memastikan kualitas lulusan dan pemerataan distribusi guru di seluruh wilayah, terutama di daerah terpencil.
STEM Menurun
Brian menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto meminta agar jumlah mahasiswa STEM related terus ditambah. Saat ini, jumlahnya baru sekitar 28 persen. STEM related adalah bidang non-STEM yang secara langsung mendukung pengembangan industri strategis berbasis STEM. "Pak Presiden kemarin memberikan arahan berarti kita harus membuat lagi lebih banyak STEM Related," ungkapnya. Hal ini dikarenakan Indonesia sedang tumbuh sehingga memerlukan lebih banyak talenta di bidang STEM.
Menurut Brian, semua negara yang berhasil lolos dari middle income trap atau pendapatan menengah karena berhasil memiliki banyak lulusan STEM. "Lulusannya didominasi oleh pendidikan yang terkait dengan STEM, terkait dengan industri. Nah ini PR kita," jelas Brian. Pernyataan ini sejalan dengan teori ekonomi pembangunan yang menekankan pentingnya modal manusia (human capital) berkualitas tinggi, terutama di bidang sains dan teknologi, untuk mendorong inovasi dan produktivitas.
Negara-negara seperti Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Singapura berhasil bertransformasi menjadi ekonomi maju karena investasi besar-besaran di bidang pendidikan STEM. Mereka menghasilkan insinyur, ilmuwan, dan teknisi yang mampu mengembangkan industri manufaktur, elektronik, otomotif, dan teknologi informasi. Indonesia saat ini masih tertinggal dalam hal jumlah lulusan STEM. Jika tidak segera dibenahi, Indonesia berisiko terjebak sebagai negara berpendapatan menengah tanpa kemampuan untuk naik kelas.
Dampak Rendahnya Minat STEM
Rendahnya minat terhadap STEM memiliki dampak yang luas. Pertama, kekurangan tenaga ahli di bidang teknik, teknologi informasi, dan sains. Industri manufaktur, energi, kesehatan, dan digital membutuhkan lulusan STEM yang kompeten. Jika pasokan kurang, perusahaan harus mendatangkan tenaga kerja asing, yang berarti devisa keluar dan kesempatan kerja bagi warga negara berkurang. Kedua, lambatnya inovasi dan pengembangan teknologi. Negara yang memiliki banyak lulusan STEM cenderung lebih inovatif dan mampu menciptakan teknologi sendiri. Ketiga, ketergantungan pada impor teknologi. Indonesia masih banyak mengimpor mesin, perangkat elektronik, dan perangkat lunak. Jika tidak ada SDM yang mampu mengembangkan teknologi lokal, ketergantungan ini akan terus berlanjut.
Keempat, kesenjangan keterampilan (skill gap) antara lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan industri. Banyak lulusan sosial dan humaniora yang kesulitan mendapatkan pekerjaan karena lapangan kerja terbatas. Sementara industri kesulitan mencari lulusan STEM. Kelima, daya saing global yang rendah. Dalam era globalisasi, negara yang unggul dalam STEM akan lebih kompetitif di pasar internasional.
Mengapa Minat STEM Rendah?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan minat siswa terhadap STEM rendah. Pertama, persepsi bahwa STEM itu sulit. Matematika, fisika, kimia, dan biologi dianggap momok bagi banyak siswa. Kurangnya guru yang inspiratif dan metode pembelajaran yang monoton memperburuk persepsi ini. Kedua, kurangnya eksposur sejak dini. Banyak siswa tidak pernah melihat langsung bagaimana teknologi bekerja, tidak pernah mengunjungi laboratorium, atau tidak pernah bertemu dengan insinyur atau ilmuwan. Ketiga, biaya kuliah STEM yang lebih tinggi. Prodi teknik dan MIPA sering kali membutuhkan biaya praktikum, peralatan, dan fasilitas yang mahal. Keempat, prospek karier yang dianggap tidak jelas. Banyak siswa dan orang tua yang belum memahami bahwa lulusan STEM bisa bekerja di berbagai sektor, dari manufaktur hingga startup teknologi.
Kelima, kurangnya role model. Tokoh-tokoh yang sukses di bidang STEM perlu lebih banyak muncul di media dan sekolah untuk menginspirasi generasi muda. Keenam, kurikulum sekolah yang terlalu teoritis dan kurang aplikatif. Siswa belajar rumus tanpa memahami penerapannya dalam kehidupan nyata. Ketujuh, pengaruh lingkungan dan teman sebaya. Jika teman-teman memilih jurusan sosial, siswa lain cenderung ikut-ikutan. Kedelapan, kurangnya beasiswa khusus STEM. Meskipun ada, jumlahnya belum mencukupi dan informasinya belum tersebar merata.
Upaya yang Harus Dilakukan
Untuk meningkatkan jumlah mahasiswa STEM, diperlukan upaya kolaboratif dari berbagai pihak. Pertama, pemerintah perlu memperbanyak beasiswa untuk prodi STEM. Beasiswa tidak hanya menanggung biaya kuliah, tetapi juga biaya hidup dan penelitian. Kedua, memperbaiki kurikulum sekolah agar lebih aplikatif dan menyenangkan. Pembelajaran STEM harus berbasis proyek, eksperimen, dan pemecahan masalah nyata. Ketiga, meningkatkan kualitas guru STEM melalui pelatihan dan sertifikasi. Guru yang inspiratif akan mampu menumbuhkan minat siswa.
Keempat, membangun fasilitas laboratorium dan pusat inovasi di sekolah dan kampus. Kelima, mengadakan kompetisi sains dan teknologi sejak dini, seperti olimpiade, hackathon, dan robotik. Keenam, menjalin kerja sama antara perguruan tinggi dan industri. Program magang, kuliah umum, dan penelitian bersama akan memberikan gambaran nyata tentang dunia kerja STEM. Ketujuh, kampanye publik untuk mengubah persepsi bahwa STEM itu sulit dan tidak menjanjikan. Kedelapan, menyediakan jalur karier yang jelas bagi lulusan STEM, misalnya dengan insentif pajak untuk perusahaan yang mempekerjakan lulusan STEM.
Kesembilan, mendorong perempuan untuk terlibat di STEM. Saat ini, partisipasi perempuan di bidang STEM masih rendah. Perlu ada program khusus untuk menarik minat perempuan. Kesepuluh, pemerintah daerah juga harus berperan aktif. Mereka dapat mengalokasikan anggaran untuk pengembangan pendidikan STEM di daerahnya.
Peran Perguruan Tinggi
Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mencetak lulusan STEM. Mereka harus memastikan kurikulum relevan dengan kebutuhan industri, dosen yang kompeten, dan fasilitas yang memadai. Selain itu, perguruan tinggi perlu menjalin kemitraan dengan industri untuk riset dan magang. Mereka juga harus aktif mempromosikan prodi STEM kepada siswa SMA/SMK melalui open house, webinar, dan kunjungan sekolah.
Perguruan tinggi juga perlu melakukan inovasi dalam metode pengajaran. Misalnya, menggunakan teknologi digital, gamifikasi, dan pembelajaran berbasis masalah. Mereka juga harus menyediakan bimbingan karier yang baik agar lulusan dapat menemukan pekerjaan yang sesuai.
Kesimpulan
Data Mendikti Saintek menunjukkan bahwa prodi pendidikan, sosial, dan ekonomi mendominasi jumlah mahasiswa di Indonesia. Sementara itu, prodi STEM seperti teknik dan MIPA masih jauh lebih sedikit. Presiden Prabowo meminta agar jumlah mahasiswa STEM related terus ditambah karena Indonesia membutuhkan lebih banyak talenta di bidang ini untuk keluar dari middle income trap. Rendahnya minat STEM disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari persepsi sulit, kurangnya eksposur, hingga biaya yang tinggi. Diperlukan upaya kolaboratif dari pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat untuk meningkatkan jumlah dan kualitas lulusan STEM. Jika berhasil, Indonesia akan memiliki modal besar untuk menjadi negara maju yang berdaya saing global.
FAQ
1. Berapa jumlah mahasiswa prodi pendidikan di Indonesia?
3,13 juta mahasiswa.
2. Prodi apa yang memiliki jumlah mahasiswa terbanyak kedua?
Sosial, dengan 2,32 juta mahasiswa.
3. Berapa jumlah mahasiswa teknik?
1,69 juta mahasiswa.
4. Berapa jumlah mahasiswa MIPA?
180.000 mahasiswa.
5. Mengapa jumlah mahasiswa STEM rendah?
Karena persepsi sulit, kurang eksposur, biaya tinggi, prospek karier yang dianggap tidak jelas, dan kurangnya role model.
6. Apa dampak rendahnya minat STEM?
Kekurangan tenaga ahli, lambatnya inovasi, ketergantungan impor teknologi, dan daya saing global rendah.
7. Apa yang diminta Presiden Prabowo?
Menambah jumlah mahasiswa STEM related.
8. Berapa persen mahasiswa STEM related saat ini?
Sekitar 28 persen.
9. Mengapa STEM penting untuk Indonesia?
Karena negara yang berhasil keluar dari middle income trap memiliki banyak lulusan STEM.
10. Bagaimana cara meningkatkan minat STEM?
Beasiswa, kurikulum aplikatif, guru inspiratif, fasilitas laboratorium, kompetisi, dan kerja sama industri.