Kisah Tim AvoGuard Asal Indonesia Raih Silver Medal di WICE 2026

Administrator
Kisah Tim AvoGuard Asal Indonesia Raih Silver Medal di WICE 2026

Keberhasilan besar di panggung kompetisi sains internasional tak pernah lahir dari jalan mulus, melainkan dari keberanian untuk bangkit setelah berulang kali menemui kegagalan di dalam laboratorium. Nilai pantang menyerah dan proses belajar berharga ini ditunjukkan enam siswa SMA Cahaya Rancamaya Bogor saat melangkah di ajang riset dunia World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026. Ajang yang berlangsung pada 20–24 September 2026 di SEGi University, Kota Damansara, Malaysia, itu menjadi panggung bagi Tim AvoGuard untuk bertarung menghadapi 517 tim dari negara-negara kuat di bidang riset seperti Korea Selatan, Kanada, Tiongkok, hingga Hong Kong.

WICE 2026 sendiri diikuti 12 negara, yakni Indonesia, Malaysia, Hong Kong, Thailand, Meksiko, Korea Selatan, Belarus, Tiongkok, Kanada, Uzbekistan, Vietnam, dan Bangladesh. Berdiri langsung di booth pameran, para siswa tidak hanya memamerkan hasil akhir, tetapi juga mempertanggungjawabkan setiap aspek ilmiah produk mereka di hadapan dewan juri internasional yang kritis. Mereka harus menjelaskan metodologi, data eksperimen, hingga potensi aplikasi produk. Inilah yang membuat kompetisi ini bukan sekadar ajang pameran, melainkan ujian sesungguhnya bagi kemampuan riset dan komunikasi ilmiah para pelajar.

Tim AvoGuard: Enam Siswa, Satu Misi

Tim AvoGuard terdiri atas enam siswa SMA Cahaya Rancamaya, yaitu Azmi Bahruddin Prasetya, Darrel Zavier El Fatih, Giandra Hanif Nareswara, Muhammad Radhisshadiqi, Xavier Zia Muhammad, dan Zaid Nabhan Khairullah. Mereka adalah pelajar yang memiliki minat besar pada riset dan inovasi. Di bawah bimbingan guru pembimbing, Aris Setiawan, mereka membagi tim menjadi dua kelompok. Kelompok pertama berfokus pada riset, eksperimen laboratorium, dan academic writing, termasuk penyusunan full paper dan persiapan menjawab pertanyaan akademik dari juri. Kelompok kedua berfokus pada presentasi, komunikasi, dan logistik, termasuk merancang penyampaian proyek di hadapan juri dan memastikan seluruh kebutuhan presentasi dapat dipersiapkan dengan baik.

Pembagian tugas ini menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mengandalkan kemampuan individu, tetapi juga kekompakan tim. Sempat merasakan ketegangan luar biasa sebelum sesi penjurian, kekompakan tim yang dipandu Aris Setiawan menjadi kunci utama. Ketika seorang anggota menjawab, anggota lainnya dengan cekatan melengkapi penjelasan. Mereka saling mendukung, saling menguatkan, dan memastikan tidak ada pertanyaan juri yang terlewat. Perjuangan tersebut membuahkan hasil manis ketika nama Tim AvoGuard diumumkan sebagai peraih Silver Medal pada kategori Applied Life Science.

Inovasi Sunscreen dari Biji Alpukat

Medali perak tersebut bukanlah pencapaian yang didapat secara instan, melainkan buah dari perjalanan riset yang melelahkan selama kurang lebih tiga bulan. Inovasi bertajuk “AvoGuard: Development of Sunscreen Based on Avocado Seed Extract as an Environmentally Safe UV Protection Product” ini mengolah limbah biji alpukat (Persea americana Mill.) yang tak terpakai menjadi biosunscreen alami. Kandungan polifenol dan antioksidan di dalamnya dimanfaatkan untuk melindungi kulit dari radiasi ultraviolet (UV) sekaligus menangkal radikal bebas, memberikan solusi yang jauh lebih ramah lingkungan dibanding sunscreen berbahan kimia sintetis.

Gagasan ini berangkat dari keprihatinan terhadap limbah biji alpukat yang sering dibuang begitu saja. Padahal, biji alpukat mengandung senyawa aktif yang bermanfaat. Dengan memanfaatkan limbah menjadi produk bernilai tinggi, Tim AvoGuard tidak hanya menciptakan inovasi di bidang kosmetik, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan limbah dan pencemaran lingkungan. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular dan pembangunan berkelanjutan.

Tiga Bulan Melawan Kegagalan

Namun, proses pengembangan di laboratorium penuh dinamika. Tim harus melalui tahapan ekstraksi bahan, formulasi krim, pengujian stabilitas fisik, pengujian aktivitas fotoprotektif melalui SPF in vitro, hingga uji ekotoksisitas menggunakan Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Setiap tahap memiliki tantangan tersendiri. Ekstraksi biji alpukat memerlukan pelarut dan metode yang tepat agar senyawa aktif dapat diambil secara optimal. Formulasi krim harus seimbang agar teksturnya nyaman, stabil, dan efektif melindungi kulit.

Eksperimen beberapa kali gagal akibat komposisi bahan tidak seimbang dan hasil ekstraksi belum sesuai harapan. Kegagalan demi kegagalan itu bisa saja membuat tim menyerah. Namun, alih-alih putus asa, kegagalan tersebut dijadikan bahan evaluasi. Mereka kembali membedah literatur ilmiah, mengevaluasi prosedur, dan melakukan perbaikan eksperimen hingga menemukan formula terbaik. Sikap inilah yang patut diteladani. Dalam riset, kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses menuju penemuan.

Uji SPF in vitro digunakan untuk mengukur kemampuan produk melindungi kulit dari sinar UV. Sementara BSLT digunakan untuk menilai tingkat toksisitas produk terhadap organisme air. Uji ini penting untuk memastikan bahwa produk yang dihasilkan tidak hanya efektif, tetapi juga aman bagi lingkungan. Tim AvoGuard menyadari bahwa inovasi harus memperhatikan aspek keberlanjutan dan keamanan ekologis.

Kemenangan yang Menginspirasi

Keberhasilan Tim AvoGuard menjadi cerminan bagaimana lingkungan sekolah membentuk ekosistem yang mendukung potensi peserta didik. Kepala Sekolah SMA Cahaya Rancamaya, Sandra Susanto, menegaskan nilai tertinggi dari pencapaian ini terletak pada pengalaman belajar dan pembentukan karakter siswa. “Kami tentu bersyukur dan bangga atas Silver Medal yang diraih Tim AvoGuard. Namun bagi kami, hal yang paling penting bukan hanya medalinya, melainkan proses belajar yang dilalui para siswa,” ungkap Sandra Susanto.

“Mereka belajar menemukan persoalan, membaca penelitian, melakukan eksperimen, menghadapi kegagalan, melakukan evaluasi, bekerja dalam tim, hingga mempertanggungjawabkan gagasannya di hadapan juri internasional,” tegasnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa pendidikan sejati tidak sekadar melatih anak menghafal teori dalam kelas, melainkan membekali mereka dengan rasa ingin tahu, daya tahan mental menghadapi kegagalan, serta keberanian menciptakan solusi bagi permasalahan sekitar.

Pola pendampingan ini sejalan dengan pengembangan SMA Cahaya Rancamaya sebagai salah satu SMA Unggul Garuda Transformasi. Sekolah berkomitmen memberikan ruang bagi siswa mempraktikkan teori kelas ke dalam solusi nyata bagi masalah masyarakat dan lingkungan melalui penelitian kritis, kolaborasi, dan keberanian tampil di panggung internasional. Dukungan sekolah, guru, dan orang tua menjadi fondasi yang kokoh bagi lahirnya generasi inovator.

Pelajaran Berharga dari AvoGuard

Kisah Tim AvoGuard mengajarkan banyak hal. Pertama, kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Tanpa keberanian untuk mencoba dan gagal, tidak akan ada penemuan. Kedua, kerja sama tim sangat penting. Dalam riset, tidak ada yang bisa bekerja sendiri. Setiap anggota memiliki peran dan kontribusi. Ketiga, literatur ilmiah adalah sumber pengetahuan yang tak ternilai. Membaca penelitian sebelumnya membantu menghindari kesalahan dan menemukan solusi.

Keempat, komunikasi ilmiah adalah keterampilan yang harus dilatih. Mampu mempresentasikan gagasan di depan juri internasional adalah pencapaian tersendiri. Kelima, inovasi harus berpihak pada lingkungan. Produk yang dihasilkan harus aman, berkelanjutan, dan memberikan manfaat jangka panjang. Keenam, dukungan lingkungan sekolah sangat menentukan. Ketika siswa diberi ruang, didampingi dengan tepat, dan ditempa proses riset jujur, limbah yang tak dilirik pun bisa diubah menjadi karya bernilai tinggi yang diakui dunia.

Pada akhirnya, pencapaian siswa di panggung dunia mengajarkan bahwa pendidikan sejati tidak sekadar melatih anak menghafal teori dalam kelas, melainkan membekali mereka dengan rasa ingin tahu, daya tahan mental menghadapi kegagalan, serta keberanian menciptakan solusi bagi permasalahan sekitar. Kisah inspiratif Tim AvoGuard membuktikan ketika potensi anak muda diberi ruang, didampingi dengan tepat, dan ditempa proses riset jujur, limbah yang tak dilirik pun bisa diubah menjadi karya bernilai tinggi diakui dunia.

Kesimpulan

Tim AvoGuard dari SMA Cahaya Rancamaya Bogor berhasil meraih Silver Medal pada kategori Applied Life Science di WICE 2026. Mereka bersaing dengan 517 tim dari 12 negara. Inovasi mereka, AvoGuard, adalah sunscreen berbahan dasar ekstrak biji alpukat yang ramah lingkungan. Proses riset selama tiga bulan penuh kegagalan dan evaluasi. Keberhasilan ini tidak lepas dari kerja sama tim, bimbingan guru, dan dukungan sekolah. Kisah ini menjadi inspirasi bagi pelajar Indonesia untuk terus berkarya, berani gagal, dan bangkit lagi. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membentuk karakter, bukan sekadar mengejar nilai.

FAQ

1. Apa itu WICE 2026?
World Invention Competition and Exhibition 2026, ajang riset dan inovasi internasional yang berlangsung di SEGi University, Kota Damansara, Malaysia, pada 20–24 September 2026.

2. Siapa Tim AvoGuard?
Tim yang terdiri dari enam siswa SMA Cahaya Rancamaya Bogor: Azmi Bahruddin Prasetya, Darrel Zavier El Fatih, Giandra Hanif Nareswara, Muhammad Radhisshadiqi, Xavier Zia Muhammad, dan Zaid Nabhan Khairullah.

3. Apa inovasi yang dikembangkan Tim AvoGuard?
AvoGuard: Development of Sunscreen Based on Avocado Seed Extract as an Environmentally Safe UV Protection Product, yaitu sunscreen berbahan dasar ekstrak biji alpukat.

4. Apa keunggulan AvoGuard?
Memanfaatkan limbah biji alpukat yang mengandung polifenol dan antioksidan untuk melindungi kulit dari UV dan radikal bebas, serta lebih ramah lingkungan dibanding sunscreen kimia sintetis.

5. Berapa lama proses riset Tim AvoGuard?
Kurang lebih tiga bulan.

6. Apa saja tahapan riset yang dilalui?
Ekstraksi bahan, formulasi krim, pengujian stabilitas fisik, pengujian aktivitas fotoprotektif melalui SPF in vitro, dan uji ekotoksisitas menggunakan Brine Shrimp Lethality Test (BSLT).

7. Apa kendala yang dihadapi?
Eksperimen beberapa kali gagal akibat komposisi bahan tidak seimbang dan hasil ekstraksi belum sesuai harapan.

8. Bagaimana mereka mengatasi kegagalan?
Mereka membedah literatur ilmiah, mengevaluasi prosedur, dan melakukan perbaikan eksperimen hingga menemukan formula terbaik.

9. Apa hasil yang diraih?
Silver Medal pada kategori Applied Life Science.

10. Siapa guru pembimbing Tim AvoGuard?
Aris Setiawan.