Olimpiade Sains Nasional (OSN) telah menjadi ajang bergengsi bagi pelajar Indonesia untuk menguji kemampuan di bidang sains dan teknologi. Namun, seiring perubahan zaman, format kompetisi ini perlu terus diperbarui agar tidak hanya mengukur hafalan, tetapi juga kemampuan bernalar kritis, kreativitas, dan kolaborasi—kompetensi esensial abad ke-21. Data dari Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kemendikbudristek menunjukkan bahwa partisipasi OSN terus meningkat: pada penyelenggaraan 2025, lebih dari 3,2 juta siswa dari seluruh Indonesia mengikuti seleksi di tingkat sekolah, dengan sekitar 2.500 finalis bertanding di tingkat nasional. Jumlah ini meningkat 15% dari tahun sebelumnya, menunjukkan antusiasme yang luar biasa dari generasi muda.
Merespons hal ini, Kemendikbudristek melalui Puspresnas meluncurkan format baru OSN 2026. Perubahan ini bukan hanya sekadar penyesuaian teknis, melainkan sebuah transformasi fundamental yang menyelaraskan OSN dengan semangat Kurikulum Merdeka—memerdekakan cara berpikir dan menilai potensi siswa secara lebih holistik. Lalu, apa saja perubahan utama dalam OSN 2026? Bagaimana sistem seleksi dan kuota peserta? Dan yang terpenting, bagaimana integrasinya dengan Kurikulum Merdeka? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Baca Juga
RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau): Syarat, Cara Daftar, dan Daftar Kampusnya
Latar Belakang Perubahan Format OSN
OSN telah diselenggarakan selama lebih dari dua dekade sebagai wahana pencarian bakat dan pengembangan talenta di bidang Matematika, IPA, dan IPS untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Namun, format lama yang terlalu bertumpu pada tes tulis pilihan ganda di level awal dan esai di level lanjut sering dikritik karena hanya mengukur kemampuan kognitif tingkat rendah (mengingat dan menghitung) dan kurang mengeksplorasi penalaran ilmiah, desain eksperimen, serta pemecahan masalah kontekstual.
Survei evaluasi internal yang dilakukan Puspresnas terhadap 1.200 peserta finalis OSN 2025 menemukan bahwa 68% siswa merasa soal-soal OSN cenderung menguji hafalan rumus dan konsep yang abstrak, bukan aplikasi sains dalam kehidupan nyata. Hal ini bertentangan dengan esensi Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berbasis inkuiri, proyek, dan profil Pelajar Pancasila.
Oleh karena itu, format baru OSN 2026 dirancang dengan tiga pilar perubahan:
-
Penilaian Berbasis Kompetensi Holistik: Tidak hanya tes tulis, tetapi juga mencakup praktikum, proyek, dan presentasi.
-
Seleksi yang Lebih Inklusif dan Adil: Penyesuaian kuota peserta dan jalur seleksi yang lebih fleksibel.
-
Integrasi Penuh dengan Kurikulum Merdeka: Soal dan metode penilaian mencerminkan capaian pembelajaran Kurikulum Merdeka.
Sistem Seleksi Baru OSN 2026

Salah satu perubahan paling signifikan adalah pada alur seleksi. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang melalui tiga jenjang (sekolah, kabupaten/kota, provinsi), OSN 2026 menerapkan sistem empat jenjang seleksi yang lebih ketat namun juga lebih transparan.
a. Jenjang 1: Seleksi Internal Sekolah
Setiap satuan pendidikan berhak mengirimkan maksimal 3 siswa terbaik per bidang studi untuk mengikuti seleksi tingkat kabupaten/kota. Seleksi internal diserahkan sepenuhnya kepada sekolah, dengan panduan soal dari Puspresnas yang bisa diunduh melalui portal resmi. Sekolah didorong untuk tidak hanya menggunakan tes tulis, tetapi juga mempertimbangkan portofolio proyek sains siswa.
b. Jenjang 2: Seleksi Tingkat Kabupaten/Kota
Dilaksanakan secara daring (online) dengan pengawasan ketat menggunakan sistem Computer-Based Test (CBT). Materi soal untuk jenjang ini masih berbentuk pilihan ganda dan esai singkat, tetapi sudah disusun berdasarkan kerangka Asesmen Kompetensi Minimum (AKM)—menekankan literasi sains dan numerasi kontekstual. Ini berbeda dengan soal hafalan rumus di masa lalu.
c. Jenjang 3: Seleksi Tingkat Provinsi
Inilah babak yang paling berubah. Seleksi provinsi kini terdiri dari dua komponen:
-
Tes Tulis (60% bobot) : Soal esai analitis yang mengukur penalaran tingkat tinggi (HOTS). Bukan lagi "hitung cepat" atau hafalan definisi.
-
Tes Praktikum/Proyek Mini (40% bobot) : Peserta akan melakukan eksperimen sains sederhana secara langsung atau merancang solusi terhadap masalah yang diberikan. Untuk Matematika, ini bisa berupa pemodelan atau pembuktian konsep. Untuk IPA, eksperimen laboratorium atau lapangan. Untuk IPS, bisa berupa analisis data sosial atau studi kasus.
Komponen praktikum ini adalah terobosan besar. Data dari uji coba terbatas di 10 provinsi pada 2025 menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti tes praktikum memiliki kemampuan berpikir kritis 23% lebih tinggi saat diwawancarai dibanding mereka yang hanya ikut tes tulis.
Baca Juga
Daftar Lengkap Singkatan Gelar Akademik dan Profesi di Indonesia 2026
d. Jenjang 4: Final Nasional
Finalis dari seluruh Indonesia akan berkompetisi di tingkat nasional. Selain tes tulis komprehensif, finalis akan menjalani:
-
Sesi Presentasi Ilmiah: Peserta mempresentasikan proyek sains yang telah mereka siapkan selama proses pembinaan.
-
Wawancara dan Diskusi Panel: Dewan juri akan menggali pemahaman konseptual dan kemampuan komunikasi sains peserta.
Kuota Peserta OSN 2026
Untuk menjamin pemerataan akses dan kualitas kompetisi, Puspresnas menetapkan kuota peserta yang disesuaikan dengan kondisi geografis dan demografis Indonesia.
| Tingkat | Kuota 2026 | Keterangan |
|---|---|---|
| Jenjang Kab/Kota | Maks. 300 peserta/bidang | Tergantung jumlah penduduk dan indeks pendidikan daerah |
| Jenjang Provinsi | 100–150 peserta/bidang | Kuota tetap per provinsi |
| Final Nasional | 200 finalis/bidang | Total 9 bidang (Matematika, IPA, IPS, Kimia, Fisika, Biologi, Informatika, Astronomi, Ekonomi) |
Perubahan Penting: Mulai 2026, kuota finalis nasional untuk jenjang SD dan SMP diperluas, masing-masing menjadi 200 finalis per bidang, naik dari 150 tahun sebelumnya. Ini bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas basis talenta sains sejak dini.
Integrasi dengan Kurikulum Merdeka
Integrasi OSN 2026 dengan Kurikulum Merdeka bukan sekadar formalitas. Ia adalah roh dari perubahan format itu sendiri. Berikut adalah wujud konkret integrasinya:
a. Soal Berbasis Proyek dan Inkuiri
Seluruh soal, terutama di tingkat provinsi dan nasional, disusun berdasarkan Capaian Pembelajaran (CP) dan Tujuan Pembelajaran (TP) dalam Kurikulum Merdeka. Tidak ada lagi soal yang meminta siswa menghafal tahun atau rumus tanpa konteks. Contoh soal IPA SMP: "Rancanglah sebuah eksperimen sederhana untuk membuktikan bahwa udara memiliki massa. Tuliskan langkah-langkah, alat dan bahan yang digunakan, serta prediksi hasilnya." Soal semacam ini langsung menyentuh dimensi bernalar kritis dan kreatif dalam Profil Pelajar Pancasila.
b. Portofolio Proyek sebagai Syarat Pendaftaran (untuk SMA)
Untuk jenjang SMA, peserta tingkat provinsi dan nasional wajib mengunggah portofolio proyek sains yang telah mereka kerjakan di sekolah. Proyek ini bisa merupakan bagian dari tugas Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) , misalnya proyek bertema "Rekayasa Teknologi" atau "Gaya Hidup Berkelanjutan". Portofolio akan dinilai oleh dewan juri dan menjadi 10% dari total nilai seleksi. Ini adalah insentif kuat bagi sekolah untuk serius menjalankan P5.
c. Penjurian Berbasis Rubrik Kompetensi
Dewan juri tidak hanya menilai benar-salah jawaban, tetapi menggunakan rubrik penilaian yang mencakup aspek: (1) kelengkapan konsep, (2) orisinalitas ide, (3) sistematika berpikir, (4) komunikasi lisan/tulis, dan (5) kolaborasi (untuk proyek tim). Rubrik ini adalah perangkat asesmen yang umum digunakan dalam Kurikulum Merdeka.
d. Topik Soal Kontekstual dan Keindonesiaan
Soal-soal OSN 2026 akan banyak mengangkat isu-isu nyata di Indonesia. Misalnya: "Analisislah penyebab banjir di Kalimantan Selatan berdasarkan data curah hujan dan tutupan lahan. Tawarkan solusi berbasis sains yang mempertimbangkan kearifan lokal." Ini melatih siswa untuk menjadi pemikir yang solutif, sesuai dengan dimensi berkebinekaan global dan beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia (peduli lingkungan).
Tips Persiapan Menghadapi OSN
Menghadapi format baru ini, guru dan siswa perlu mengubah strategi persiapan. Berikut tips yang dapat dilakukan:
-
Fokus pada Pemahaman Konsep, Bukan Hafalan: Pelajari "mengapa" di balik setiap rumus dan fenomena. Jika Anda paham konsep, soal dalam bentuk apa pun bisa dihadapi.
-
Latihan Soal AKM dan HOTS: Soal OSN 2026 akan banyak menyerupai tipe Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Carilah contoh-contoh soal AKM di portal resmi Kemendikbudristek.
-
Rajin Melakukan Praktikum Mandiri: Manfaatkan laboratorium sekolah atau alat-alat sederhana di rumah untuk melakukan eksperimen. Dokumentasikan setiap langkah dan hasilnya sebagai latihan portofolio.
-
Kembangkan Proyek P5 yang Berkualitas: Jika Anda siswa SMA, proyek P5 Anda bisa menjadi tiket emas. Pastikan proyek tersebut memiliki data yang kuat, analisis yang tajam, dan presentasi yang meyakinkan.
-
Ikuti Komunitas Olimpiade: Bergabunglah dengan grup diskusi daring atau klub sains di sekolah. Berbagi soal dan trik dengan teman sebaya sangat efektif.
-
Pantau Portal Resmi: Semua informasi resmi OSN 2026 hanya dirilis melalui pusatprestasinasional.kemendikdasmen.go.id dan akun Instagram @puspresnas. Waspadai informasi palsu.
Penutup
Format baru OSN 2026 adalah bukti bahwa sistem pendidikan Indonesia terus berbenah. Kompetisi ini tidak lagi sekadar mencari "siswa terpintar" dalam menjawab soal, tetapi mencari "ilmuwan muda" yang mampu berpikir kritis, bekerja kolaboratif, dan menghasilkan solusi nyata. Ini sejalan dengan cita-cita besar Indonesia Emas 2045. Bagi siswa yang bermimpi menjadi bagian dari OSN, persiapkan diri Anda tidak hanya dengan buku dan latihan soal, tetapi juga dengan rasa ingin tahu, kreativitas, dan keberanian untuk bereksperimen. Masa depan sains Indonesia ada di tangan Anda.
Baca Juga
Prospek Lulusan SMA Taruna Nusantara: Jalur Kuliah, Karier, dan Keunggulan Alumni
FAQ
1. Apakah semua bidang studi mengalami perubahan format?
Ya, semua 9 bidang studi (Matematika, IPA, IPS, Kimia, Fisika, Biologi, Informatika, Astronomi, Ekonomi) menerapkan sistem seleksi baru dengan tambahan tes praktikum atau presentasi di tingkat provinsi dan nasional.
2. Kapan pendaftaran OSN 2026 dibuka?
Seleksi internal sekolah dimulai pada Februari 2026. Pendaftaran untuk tingkat kabupaten/kota akan diinformasikan melalui portal Puspresnas pada Januari 2026.
3. Bagaimana jika sekolah saya tidak memiliki laboratorium?
Untuk tes praktikum, panitia akan menyediakan alat dan bahan sederhana yang mudah didapat. Siswa tidak diharuskan menggunakan alat canggih. Kreativitas dalam menggunakan alat seadanya justru dinilai positif.
4. Apakah portofolio proyek P5 wajib untuk semua jenjang?
Tidak. Portofolio proyek sains hanya wajib untuk jenjang SMA. SD dan SMP belum diwajibkan, namun sangat dianjurkan sebagai nilai tambah.
5. Apakah ada perubahan pada hadiah dan penghargaan?
Format penghargaan tetap sama: medali emas, perak, perunggu, dan honorable mention. Pemerintah juga memberikan beasiswa dan pembinaan lanjutan bagi para peraih medali untuk persiapan olimpiade internasional.