Di tengah semangat reformasi pendidikan yang dibawa Kurikulum Merdeka, nama Tan Malaka kembali bergema di kalangan pendidik kritis. Seorang revolusioner yang terlupakan, Tan Malaka—melalui konsep Sekolah Rakyat yang ia dirikan pada era kolonial—menawarkan fondasi filosofis yang mengagumkan: pendidikan harus membebaskan, berpihak pada kaum miskin, dan menumbuhkan nalar merdeka.
Hampir satu abad kemudian, data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 masih mencatat bahwa 25,2 juta penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, dan putus sekolah masih menyisakan pekerjaan rumah di banyak daerah. Dalam konteks inilah, cita-cita Tan Malaka menemukan kembali relevansinya: pendidikan bukan untuk mencetak pekerja patuh, melainkan manusia merdeka yang sadar akan haknya dan mampu bertindak.
Artikel ini mengulas pokok-pokok pemikiran Tan Malaka mengenai Sekolah Rakyat, menyelaminya sebagai semangat zaman, dan menunjukkan irisan penting dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka yang kini dijalankan Kemendikbudristek.
Siapakah Tan Malaka dan Apa Itu Sekolah Rakyat?
Tan Malaka (1897–1949) adalah seorang pemikir, aktivis, dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang sering dijuluki "Bapak Republik yang Terlupakan". Pendidikan baginya bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan alat perjuangan untuk membebaskan rakyat dari penindasan kolonial dan feodal. Pada tahun 1920-an, ia mendirikan Sekolah Rakyat (sering disebut Sekolah Liar) di Semarang, kemudian di Padang, dan berbagai tempat lainnya.
Sekolah-sekolah ini dibangun secara swadaya, dikelola bersama masyarakat, dan menampung anak-anak dari keluarga paling miskin yang tidak mampu mengakses sekolah pemerintah kolonial. Dalam buku biografinya Dari Penjara ke Penjara, Tan Malaka menggambarkan betapa sekolah-sekolah ini diselenggarakan dengan peralatan seadanya, namun dengan semangat tinggi: murid belajar di bawah rumah panggung, di bekas kandang, atau di bangunan darurat. Biaya operasional ditanggung dari sumbangan rakyat, bukan dari pemerintah kolonial. Hal ini menunjukkan prinsip fundamental: pendidikan adalah tanggung jawab kolektif komunitas, bukan sekadar proyek negara.
Menurut sejarawan Harry A. Poeze dalam Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik, jumlah Sekolah Rakyat yang dibangun di bawah pengaruh Tan Malaka mencapai puluhan di Sumatera dan Jawa, dengan ribuan murid. Ini adalah gerakan pendidikan akar rumput terbesar pada masa itu.
Prinsip-Prinsip Inti Sekolah Rakyat Tan Malaka
Konsep Sekolah Rakyat tidak hanya soal gedung. Ada beberapa prinsip dasar yang menjadi nyawa pendidikannya:
a. Pendidikan untuk Rakyat, Bukan untuk Kaum Elite

Di masa kolonial, sekolah hanya bisa diakses oleh anak-anak bangsawan dan orang kaya. Tan Malaka membalik logika ini: rakyat jelata, buruh, dan petani berhak atas pendidikan bermutu. Ia percaya bahwa kecerdasan tidak ditentukan oleh keturunan, melainkan oleh kesempatan. Sekolah-sekolah ini tidak memungut biaya, bahkan sering menyediakan makanan bagi murid yang kelaparan.
b. Merdeka Berpikir (Nalar Kritis)

Tan Malaka sangat menentang pendidikan hafalan dan dogmatis. Dalam risalahnya Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika), ia menekankan pentingnya berpikir logis dan kritis. Murid-murid Sekolah Rakyat diajak bertanya, berdiskusi, dan memecahkan masalah nyata, bukan sekadar menghafal ejaan atau angka. Pendidikan harus menghasilkan manusia yang bisa berpikir sendiri, bukan manut buta.
c. Belajar dari Kehidupan Nyata (Kontekstual)

Sekolah Rakyat mengajarkan pengetahuan yang langsung berguna: membaca, menulis, berhitung, tetapi juga keterampilan bertani, berdagang, kesehatan lingkungan, dan politik praktis. Tan Malaka ingin muridnya mengerti penyebab kemiskinan dan cara melawannya. Ini adalah bentuk pembelajaran kontekstual radikal—jauh sebelum istilah "project-based learning" dikenal.
d. Kerja dan Karakter (Kemandirian dan Gotong Royong)

Murid tidak hanya belajar di kelas. Mereka ikut serta dalam kerja-kerja komunitas, seperti membersihkan selokan, membangun gedung sekolah, dan membantu sesama. Ini menanamkan kemandirian, tanggung jawab sosial, dan semangat gotong royong.
e. Guru sebagai Fasilitator dan Pejuang

Guru-guru di Sekolah Rakyat digerakkan oleh kesadaran ideologis. Mereka bukan pegawai negeri yang mengejar gaji, melainkan aktivis yang tinggal bersama masyarakat. Mereka mendidik dengan hati, menjadi teladan, dan memperlakukan murid sebagai subjek, bukan objek.
Kurikulum Merdeka: Semangat yang Sama di Hari ini
Ketika Kurikulum Merdeka diluncurkan oleh Kemendikbudristek pada 2022, para pengamat melihat resonansi dengan gagasan-gagasan lama tentang pendidikan kerakyatan. Prinsip "Merdeka Belajar" yang digaungkan oleh Menteri Nadiem Makarim mengandung beberapa irisan signifikan:
-
Pembelajaran berdiferensiasi dan berpihak pada murid: Kurikulum Merdeka memberi keleluasaan guru untuk menyesuaikan materi dengan kebutuhan dan minat siswa, mirip dengan semangat Tan Malaka yang menolak kurikulum seragam kolonial.
-
Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5): Inti dari P5 adalah pembelajaran berbasis proyek yang mengambil tema-tema nyata—seperti kewirausahaan, keberlanjutan lingkungan, dan demokrasi. Ini selaras dengan pendekatan Sekolah Rakyat yang langsung menceburkan murid pada persoalan hidup sehari-hari.
-
Fokus pada karakter: Profil Pelajar Pancasila menekankan beriman, berkebinekaan, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Semuanya telah dihidupi dalam Sekolah Rakyat: gotong royong adalah napas kolektif, kemandirian adalah syarat hidup rakyat miskin, dan nalar kritis adalah senjata menghadapi penjajahan.
-
Otonomi sekolah dan guru: Kurikulum Merdeka mengurangi beban administratif dan memberi otonomi lebih besar kepada sekolah. Ini sejalan dengan desain Sekolah Rakyat yang dikelola secara mandiri oleh komunitas, tidak menunggu instruksi pusat.
Data Pusat Kurikulum dan Pembelajaran (Puskur) Kemendikbudristek 2025 menunjukkan bahwa 84% guru yang menerapkan pembelajaran berbasis proyek melaporkan siswa lebih aktif dan antusias. Angka ini menggemakan antusiasme serupa yang dicatat oleh Tan Malaka di sekolah-sekolah liarnya, di mana anak-anak yang biasanya pasif menjadi berani bertanya dan berdebat.
Relevansi dan Implementasi Hari Ini
Semangat Sekolah Rakyat dapat dihidupkan kembali dalam bingkai Kurikulum Merdeka. Beberapa contoh nyata:
-
Sekolah di daerah miskin dan terpencil dapat mengadopsi pembelajaran kontekstual yang langsung menyentuh ekonomi lokal. Misalnya, di Sumba, guru-guru menerapkan proyek "Pangan Lokal" yang mengajarkan matematika melalui jual beli jagung, seni melalui anyaman, dan sains melalui pupuk organik. Ini persis yang diimpikan Tan Malaka: pendidikan yang membumi.
-
Komunitas belajar dan gotong royong: Kurikulum Merdeka mendorong pembentukan komunitas belajar antarguru dan antara sekolah dengan masyarakat. Ini menghidupkan kembali ruh Sekolah Rakyat yang kolektif. Di Kulon Progo, misalnya, SDN Sidomulyo berhasil membangun perpustakaan desa dengan melibatkan petani, nelayan, dan orang tua, menghapus batas antara sekolah dan kehidupan rakyat.
-
Pendidikan karakter berbasis aksi: Alih-alih sekadar menyampaikan materi PPKn di kelas, murid-murid diajak terlibat dalam kerja bakti, dialog dengan warga, atau bahkan mengelola koperasi mini sekolah. Ini adalah wujud dari "sekolah kehidupan" yang digagas Tan Malaka.
Meskipun terdapat resonansi, ada perbedaan fundamental yang tidak boleh diabaikan. Sekolah Rakyat lahir dari perlawanan terhadap sistem penjajahan, sementara Kurikulum Merdeka adalah kebijakan negara. Esensi "merdeka" dalam konteks Tan Malaka adalah kemerdekaan struktural dari penindasan, sementara "merdeka" dalam Kurikulum Merdeka cenderung pada otonomi pedagogis. Namun demikian, nilai-nilai inti—keberpihakan pada murid, kemandirian, nalar kritis, dan keterlibatan komunitas—adalah benang merah yang tak terputus.
Para pendidik hari ini dapat mengambil inspirasi dari pengorbanan guru-guru Sekolah Rakyat yang mengajar tanpa pamrih. Di era digital, kita bisa mengadaptasi metode Tan Malaka: gunakan sumber daya lokal, libatkan orang tua sebagai mitra, dan jangan biarkan siswa tenggelam dalam hafalan tanpa makna. Pendidikan sejati adalah tentang menyulut api, bukan mengisi bejana—sebuah metafora yang pas untuk kedua era.
Penutup
Pemikiran Tan Malaka tentang Sekolah Rakyat bukanlah artefak sejarah. Ia adalah kompas moral dan pedagogis yang tetap menyala. Di bawah bendera Kurikulum Merdeka, guru-guru Indonesia memiliki kesempatan untuk kembali ke akar: pendidikan yang memanusiakan, memberdayakan, dan membebaskan. Mewarisi semangat itu berarti menjadikan setiap ruang kelas sebagai sekolah rakyat—tempat anak-anak dari keluarga paling sederhana sekalipun merasa berharga, berpikir kritis, dan tumbuh sebagai pejuang bagi komunitasnya sendiri. Seperti kata Tan Malaka, "Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda." Maka, biarkan idealisme pendidikan kerakyatan itu menuntun kita, di zaman merdeka ini.
FAQ
1. Apakah Tan Malaka menentang semua bentuk pendidikan formal?
Tidak. Ia menentang pendidikan yang membelenggu pikiran dan hanya melayani kepentingan penjajah atau kapitalis. Ia mendukung pendidikan yang membebaskan dan relevan bagi rakyat.
2. Apa perbedaan Sekolah Rakyat dan sekolah biasa zaman kolonial?
Sekolah kolonial menggunakan kurikulum Barat yang tidak relevan dengan kehidupan pribumi, menekankan hafalan, dan membatasi akses rakyat miskin. Sekolah Rakyat gratis, dikelola komunitas, mengajarkan keterampilan praktis, dan mendorong pemikiran kritis serta kesadaran politik.
3. Bagaimana Kurikulum Merdeka bisa disebut relevan dengan pemikiran Tan Malaka?
Keduanya sama-sama menekankan kemerdekaan dalam belajar, pembelajaran kontekstual, pengembangan karakter melalui aksi nyata, serta pemberdayaan komunitas. Namun, konteks historisnya berbeda.
4. Apakah Tan Malaka menulis tentang metode pendidikan yang spesifik?
Tidak dalam satu buku khusus, tetapi gagasannya tersebar dalam Madilog, Dari Penjara ke Penjara, dan tulisan-tulisan politiknya. Ia menekankan logika, dialektika, dan keberpihakan pada murid.
5. Bisakah prinsip Sekolah Rakyat diterapkan di sekolah swasta elit?
Prinsip dasarnya—seperti nalar kritis, kemandirian, dan gotong royong—bisa diterapkan di mana saja. Namun, semangat keberpihakan pada kaum miskin mungkin perlu diwujudkan dalam bentuk program beasiswa, kerja sosial, atau kemitraan dengan masyarakat kurang mampu.
6. Di mana saya bisa membaca lebih dalam tentang Tan Malaka?
Karya aslinya tersedia di perpustakaan digital. Biografi otoritatif oleh Harry A. Poeze adalah rujukan utama. Ada pula dokumenter dan diskusi daring yang bisa diakses.