Demo Pendidikan Terbesar di Perancis, Kekurangan Guru hingga Kelas Padat

Administrator
Demo Pendidikan Terbesar di Perancis, Kekurangan Guru hingga Kelas Padat

Ada sesuatu yang menarik sedang terjadi di Perancis. Negara yang selama ini dikenal memiliki tradisi pendidikan publik yang kuat, sejarah intelektual panjang, dan sistem sekolah yang menjadi salah satu fondasi republik, justru menyaksikan pelajar turun ke jalan memprotes kondisi pendidikan mereka. Pada 6 Oktober 2026, demonstrasi berlangsung di berbagai wilayah Perancis dan melibatkan ratusan ribu orang. Pemerintah memperkirakan sekitar 266.000 orang ikut turun ke jalan, sementara penyelenggara memperkirakan jumlahnya mencapai sekitar 450.000 orang. Di balik perbedaan angka tersebut terdapat persoalan yang sebenarnya sangat sederhana: para siswa ingin sekolah yang dapat menjalankan fungsi dasarnya dengan baik.

Yang mereka persoalkan bukan sekadar perubahan kurikulum atau soal ujian. Para pelajar menyoroti kekurangan guru, kelas yang terlalu padat, kondisi bangunan sekolah, panjangnya jam belajar, serta ketimpangan fasilitas antarsekolah. Gerakan yang awalnya muncul dari aksi pelajar di kawasan Paris kemudian berkembang menjadi mobilisasi yang lebih luas. Sejumlah besar sekolah menengah mengalami gangguan kegiatan belajar. Ketika siswa meninggalkan ruang kelas untuk memprotes kondisi sekolah, kita seharusnya tidak hanya melihatnya sebagai persoalan ketertiban umum. Ada pesan pendidikan yang jauh lebih penting di baliknya.

Paradoks Pendidikan Modern

Salah satu persoalan yang paling menonjol adalah kekurangan guru. Ini merupakan paradoks pendidikan modern. Negara berbicara tentang transformasi digital, kecerdasan buatan, pembelajaran personal, dan sekolah masa depan, tetapi pada saat yang sama masih menghadapi persoalan paling mendasar: siapa yang akan berdiri di depan kelas dan mengajar anak-anak? Data Kementerian Pendidikan Perancis menunjukkan, pada tahun ajaran 2024–2025 hampir 10 persen jam pelajaran di sekolah menengah negeri tidak terlaksana, antara lain karena tidak tersedianya guru pengganti. Bagi seorang siswa, kehilangan satu jam pelajaran mungkin terlihat kecil. Namun, jika terjadi berulang kali, yang hilang bukan hanya waktu di kalender sekolah, melainkan kesempatan belajar yang tidak mudah dikembalikan.

Persoalan lain adalah kepadatan ruang kelas dan kualitas fasilitas sekolah. Sejumlah pelajar mengeluhkan kelas yang dapat menampung sekitar 36 siswa, sementara sebagian bangunan sekolah menghadapi persoalan seperti panas berlebihan, kebocoran, dan kerusakan fasilitas. Di sinilah kita menemukan ironi pendidikan abad ke-21. Kita semakin sering berbicara tentang personalized learning, yaitu pembelajaran yang dirancang sesuai kebutuhan setiap anak, tetapi gagasan tersebut sulit diwujudkan jika seorang guru harus menangani puluhan siswa dalam satu ruangan dengan waktu terbatas. Guru diminta menjadi pengajar, mentor, fasilitator, konselor, sekaligus motivator, tetapi sistem pendidikan terkadang lupa memberikan kondisi kerja yang memungkinkan semua tuntutan tersebut dijalankan.

Relevansi bagi Indonesia

Pengalaman Perancis menjadi relevan untuk dibaca oleh negara lain, termasuk Indonesia. Tentu, sistem pendidikan kedua negara tidak dapat dibandingkan begitu saja. Kondisi ekonomi, demografi, struktur pemerintahan, dan persoalan pendidikan kita memiliki karakteristik sendiri. Namun, ada pertanyaan yang universal: seberapa serius sebuah negara memandang sekolah sebagai investasi masa depan? Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika dunia memasuki era kecerdasan buatan. Kita sedang menyaksikan perkembangan teknologi yang luar biasa cepat, tetapi teknologi tersebut tidak menghapus kebutuhan akan guru. Bahkan ketika mesin dapat menjawab pertanyaan, membuat gambar, menganalisis data, dan membantu menyelesaikan pekerjaan, seorang anak tetap membutuhkan manusia yang memahami konteks hidupnya, mengenali kesulitannya, dan memberikan dorongan ketika dia gagal.

Karena itu, perdebatan tentang masa depan pendidikan seharusnya tidak dimulai dengan pertanyaan apakah kecerdasan buatan akan menggantikan guru. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah negara mampu memastikan setiap anak memiliki guru yang cukup, ruang belajar yang layak, dan waktu belajar yang berkualitas. Kita terlalu mudah terpesona oleh teknologi pendidikan, padahal fondasi pendidikan masih sangat konvensional. Anak membutuhkan guru yang hadir, buku yang tersedia, ruang kelas yang aman, fasilitas yang memadai, dan sistem yang membuat proses belajar tetap bermakna. Teknologi dapat memperkuat semua itu, tetapi teknologi tidak dapat menjadi alasan untuk mengabaikan fondasinya.

Krisis Guru

Kekurangan guru bukan hanya masalah Perancis. Banyak negara, termasuk Indonesia, menghadapi tantangan serupa. Di Indonesia, kekurangan guru masih terjadi di berbagai daerah, terutama di wilayah terpencil dan 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa masih ada sekolah yang kekurangan guru, bahkan ada yang hanya memiliki satu atau dua guru untuk mengajar semua mata pelajaran. Akibatnya, kualitas pembelajaran tidak optimal. Siswa tidak mendapatkan bimbingan yang cukup, dan potensi mereka tidak tergali secara maksimal.

Di Perancis, kekurangan guru disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk beban kerja yang tinggi, gaji yang kurang kompetitif, dan kondisi kerja yang tidak kondusif. Banyak guru yang memilih pensiun dini atau berpindah ke profesi lain. Pemerintah Perancis telah mencoba berbagai upaya untuk mengatasi masalah ini, seperti menambah formasi guru dan meningkatkan gaji, tetapi hasilnya belum sepenuhnya memuaskan. Demonstrasi pelajar menjadi bukti bahwa masalah ini masih belum terselesaikan.

Di Indonesia, pemerintah telah melakukan berbagai upaya, seperti rekrutmen CPNS guru, program PPPK, dan tunjangan profesi. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam hal pemerataan guru dan peningkatan kualitas. Masih ada kesenjangan antara guru di kota besar dan di daerah terpencil. Guru di kota besar memiliki akses lebih baik ke pelatihan, fasilitas, dan teknologi, sementara guru di daerah terpencil sering kali harus berjuang sendiri dengan keterbatasan yang ada.

Kepadatan Kelas dan Fasilitas

Kepadatan kelas menjadi persoalan serius di banyak negara. Di Perancis, kelas dengan 36 siswa dianggap terlalu padat. Di Indonesia, beberapa sekolah juga memiliki kelas yang padat, terutama di daerah perkotaan. Rasio guru-murid yang tidak ideal membuat guru sulit memberikan perhatian individual kepada setiap siswa. Padahal, setiap anak memiliki kebutuhan dan kecepatan belajar yang berbeda. Personalized learning yang digadang-gadang sebagai masa depan pendidikan membutuhkan rasio guru-murid yang memadai, bukan justru sebaliknya.

Fasilitas sekolah juga menjadi sorotan. Di Perancis, sebagian bangunan sekolah mengalami kebocoran, panas berlebihan, dan kerusakan. Di Indonesia, masih banyak sekolah yang rusak berat, terutama di daerah terpencil. Banyak sekolah yang tidak memiliki listrik, air bersih, atau toilet yang layak. Anak-anak harus belajar di ruang kelas yang bocor, tanpa penerangan yang cukup, dan dengan perabot yang minim. Kondisi ini tentu tidak kondusif untuk belajar. Pemerintah telah melakukan program revitalisasi sekolah, tetapi skalanya masih terbatas dibandingkan kebutuhan yang ada.

Teknologi Tidak Dapat Menggantikan Guru

Di era kecerdasan buatan, kita sering mendengar narasi bahwa teknologi akan mengubah pendidikan secara radikal. Ada yang memprediksi bahwa guru akan digantikan oleh AI, bahwa sekolah akan menjadi virtual, dan bahwa pembelajaran akan sepenuhnya personal. Namun, pengalaman Perancis dan berbagai penelitian menunjukkan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan peran guru. Guru bukan hanya penyampai informasi. Guru adalah pendidik, pembimbing, teladan, dan motivator. Guru membantu siswa mengembangkan karakter, keterampilan sosial, dan kecerdasan emosional. Guru mengenali ketika siswa sedih, frustrasi, atau kehilangan motivasi. Guru memberikan dukungan moral dan spiritual. Semua ini tidak dapat dilakukan oleh mesin.

Teknologi dapat menjadi alat bantu yang sangat berguna. Misalnya, AI dapat membantu guru menilai pekerjaan siswa, menyediakan materi pembelajaran yang dipersonalisasi, atau mengidentifikasi siswa yang membutuhkan bantuan tambahan. Namun, teknologi harus dilihat sebagai pelengkap, bukan pengganti. Fondasi pendidikan tetap pada interaksi manusia. Anak membutuhkan guru yang hadir secara fisik dan mental, yang peduli, dan yang memahami konteks kehidupan mereka.

Pelajaran dari Perancis

Demonstrasi pelajar Perancis seharusnya dibaca sebagai sebuah alarm. Ketika anak-anak turun ke jalan karena sekolah tidak mampu memberikan apa yang mereka anggap sebagai pendidikan yang layak, kita tidak semestinya buru-buru melihat mereka sebagai generasi yang sulit diatur. Bisa jadi mereka justru sedang menunjukkan bahwa mereka peduli terhadap masa depan pendidikan. Anak-anak yang sama kelak akan menjadi dokter, guru, insinyur, peneliti, pekerja, pengusaha, birokrat, dan pemimpin. Jika mereka hari ini merasa sekolah tidak mampu memenuhi kebutuhan mereka, negara perlu mendengarkan sebelum persoalan tersebut berkembang menjadi krisis kepercayaan.

Perancis memberikan pelajaran bahwa negara maju pun tidak kebal terhadap krisis pendidikan. Kemajuan ekonomi dan tradisi intelektual yang panjang tidak otomatis menjamin sekolah selalu berjalan dengan baik. Sistem pendidikan harus terus diperiksa, diperbaiki, dan disesuaikan dengan perubahan masyarakat. Di tengah perlombaan membangun kecerdasan buatan dan sekolah digital, ada pertanyaan yang jauh lebih sederhana yang tidak boleh kita lupakan: apakah sekolah hari ini sudah cukup baik untuk anak-anak yang sedang belajar di dalamnya? Sebelum seorang anak diminta menguasai kecerdasan buatan dan bersaing dalam ekonomi global, negara harus terlebih dahulu memastikan bahwa sekolahnya memiliki guru yang cukup, ruang belajar yang layak, dan sistem pendidikan yang membuat anak percaya bahwa masa depan memang pantas diperjuangkan.

Upaya yang Harus Dilakukan Indonesia

Indonesia dapat mengambil pelajaran dari Perancis. Pertama, pemerintah harus memastikan ketersediaan guru yang cukup di seluruh sekolah, terutama di daerah terpencil. Rekrutmen guru harus dilakukan secara adil dan merata. Kedua, meningkatkan kualitas dan kesejahteraan guru. Guru harus mendapatkan gaji yang layak, tunjangan yang memadai, dan kesempatan pengembangan profesional yang berkelanjutan. Ketiga, memperbaiki fasilitas sekolah, termasuk ruang kelas, toilet, listrik, dan akses internet. Keempat, mengurangi kepadatan kelas dengan menambah ruang kelas dan guru. Kelima, memperpendek jam belajar yang terlalu panjang dan memastikan waktu istirahat yang cukup.

Keenam, melibatkan siswa dalam pengambilan keputusan yang menyangkut pendidikan mereka. Siswa adalah pemangku kepentingan utama. Aspirasi mereka harus didengar. Ketujuh, meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran pendidikan. Kedelapan, memperkuat pendidikan karakter dan etika. Kesembilan, memanfaatkan teknologi secara bijak, bukan sebagai tujuan, tetapi sebagai alat. Kesepuluh, membangun budaya menghargai guru dan pendidikan.

Kesimpulan

Demonstrasi pelajar di Perancis adalah cermin bagi kita semua. Negara maju pun masih bergulat dengan masalah dasar pendidikan. Kekurangan guru, kelas padat, fasilitas rusak, dan ketimpangan akses adalah persoalan yang juga dihadapi Indonesia. Di tengah gempuran teknologi dan narasi sekolah masa depan, kita tidak boleh melupakan fondasi: guru yang hadir, ruang belajar yang layak, dan sistem yang berpihak pada anak. Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar kecanggihan teknologi, tetapi melupakan kebutuhan paling dasar dari anak-anak kita. Mari dengarkan mereka, perbaiki sekolah, dan pastikan masa depan yang lebih cerah.

FAQ

1. Apa yang menyebabkan demonstrasi pelajar di Perancis?
Demonstrasi dipicu oleh kekurangan guru, kelas yang terlalu padat, kondisi bangunan sekolah yang buruk, jam belajar yang panjang, dan ketimpangan fasilitas antarsekolah.

2. Berapa jumlah peserta demonstrasi?
Pemerintah memperkirakan 266.000 orang, penyelenggara memperkirakan 450.000 orang.

3. Mengapa kekurangan guru menjadi masalah serius?
Karena hampir 10 persen jam pelajaran di sekolah menengah negeri Perancis tidak terlaksana pada 2024-2025 akibat tidak ada guru pengganti.

4. Apa itu personalized learning?
Pembelajaran yang dirancang sesuai kebutuhan setiap anak. Sulit diwujudkan jika kelas terlalu padat.

5. Apakah teknologi dapat menggantikan guru?
Tidak. Guru berperan sebagai pendidik, mentor, dan motivator yang tidak dapat digantikan oleh mesin.

6. Apa relevansi demonstrasi Perancis bagi Indonesia?
Indonesia juga menghadapi masalah kekurangan guru, fasilitas sekolah yang kurang memadai, dan ketimpangan akses pendidikan.

7. Apa yang harus dilakukan pemerintah Indonesia?
Memastikan ketersediaan guru, meningkatkan kesejahteraan guru, memperbaiki fasilitas sekolah, dan melibatkan siswa dalam pengambilan keputusan.

8. Mengapa negara maju seperti Perancis bisa mengalami krisis pendidikan?
Karena sistem pendidikan harus terus diperbaiki seiring perubahan masyarakat. Kemajuan ekonomi tidak otomatis menjamin kualitas pendidikan.

9. Apa pesan utama dari demonstrasi ini?
Bahwa pendidikan adalah investasi masa depan. Negara harus memastikan fondasi pendidikan terpenuhi sebelum mengejar teknologi.

10. Bagaimana cara mengatasi kepadatan kelas?
Dengan menambah ruang kelas dan guru, serta mengurangi rasio guru-murid.