IABN Sriwijaya Jadi Institut Agama Buddha Negeri Pertama di Indonesia

Administrator
IABN Sriwijaya Jadi Institut Agama Buddha Negeri Pertama di Indonesia

Kementerian Agama (Kemenag) RI baru saja meresmikan Institut Agama Buddha Negeri (IABN) Sriwijaya Tangerang. Institut ini merupakan transformasi Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Sriwijaya berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 50 Tahun 2026. Perubahan status ini juga menjadikan IABN Sriwijaya sebagai institut agama Buddha negeri pertama di Indonesia, sebuah tonggak sejarah yang patut diapresiasi oleh seluruh masyarakat, khususnya umat Buddha di Tanah Air.

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan IABN Sriwijaya tidak boleh hanya jadi tempat transfer ilmu pengetahuan, melainkan juga menjadi mercusuar kearifan lokal, pusat moderasi beragama, dan benteng kebangsaan yang turut membentuk generasi emas Indonesia. "Hari ini merupakan hari yang bersejarah karena untuk pertama kalinya kita memiliki Institut Agama Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang. Selama ini, lembaga tersebut berstatus sekolah tinggi, dan sekarang telah ditingkatkan menjadi institut," kata Menag dalam peresmian tersebut, dikutip dari Kemenag. "Kita membutuhkan orang-orang berilmu yang memberikan dampak positif bagi masyarakat. Inilah yang saya sebut sebagai cendekiawan," kata Menag.

Peresmian ini bukan sekadar perubahan nama atau status administratif. Ini adalah babak baru dalam sejarah pendidikan tinggi keagamaan Buddha di Indonesia, yang membuka peluang lebih luas bagi pengembangan ilmu, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang IABN Sriwijaya Tangerang, mulai dari latar belakang transformasi, makna historis, pesan Menag, komitmen Rektor, peran strategis institut, tantangan ke depan, hingga FAQ yang sering diajukan. Simak dengan saksama.

Transformasi STABN Menjadi IABN Sriwijaya

Transformasi STABN Sriwijaya menjadi IABN Sriwijaya Tangerang bukanlah proses yang tiba-tiba. Ini adalah hasil dari perjuangan panjang berbagai pihak, termasuk Kemenag, umat Buddha, akademisi, dan pemerintah daerah. Perubahan status kelembagaan ini ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 50 Tahun 2026, yang menjadi landasan hukum bagi IABN Sriwijaya untuk mengembangkan diri menjadi institut.

Selama ini, STABN Sriwijaya telah berperan penting dalam mencetak tenaga pendidik, penyuluh, dan cendekiawan Buddha di Indonesia. Namun, status sebagai sekolah tinggi memiliki keterbatasan, terutama dalam hal pengembangan program studi, penelitian, dan kerja sama internasional. Dengan status institut, IABN Sriwijaya memiliki kewenangan yang lebih luas untuk membuka program studi baru, meningkatkan kualitas penelitian, dan memperluas jejaring kerja sama.

Perubahan ini juga mencerminkan pengakuan negara terhadap pentingnya pendidikan tinggi keagamaan Buddha. Indonesia adalah negara dengan keberagaman agama dan kepercayaan. Umat Buddha memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan tinggi yang berkualitas, sesuai dengan ajaran agamanya. Kehadiran IABN Sriwijaya sebagai institut negeri pertama adalah wujud nyata dari komitmen negara dalam memenuhi hak tersebut.

Makna Historis

Menag Nasaruddin Umar menyebut peresmian ini sebagai hari bersejarah. "Hari ini merupakan hari yang bersejarah karena untuk pertama kalinya kita memiliki Institut Agama Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang," ujarnya. Pernyataan ini bukanlah berlebihan. Selama puluhan tahun, pendidikan tinggi keagamaan Buddha di Indonesia belum memiliki institut negeri. Kehadiran IABN Sriwijaya mengisi kekosongan tersebut dan menjadi simbol kemajuan.

Makna historis ini memiliki beberapa dimensi. Pertama, dari sisi kelembagaan, IABN Sriwijaya menjadi contoh bagi pengembangan institusi keagamaan Buddha lainnya. Kedua, dari sisi akademik, status institut memungkinkan pengembangan ilmu pengetahuan yang lebih luas dan mendalam. Ketiga, dari sisi sosial, kehadiran IABN Sriwijaya memperkuat posisi umat Buddha dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Keempat, dari sisi budaya, institut ini menjadi pusat pelestarian dan pengembangan budaya Buddhis yang kaya, termasuk seni, sastra, dan tradisi.

Nama "Sriwijaya" sendiri memiliki resonansi sejarah yang kuat. Kerajaan Sriwijaya adalah salah satu kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara yang pernah berjaya pada abad ke-7 hingga ke-13. Sriwijaya dikenal sebagai pusat pendidikan dan penyebaran agama Buddha, dengan hubungan erat dengan Universitas Nalanda di India. Dengan nama ini, IABN Sriwijaya diharapkan dapat melanjutkan warisan kejayaan pendidikan Buddha di masa lalu, dengan semangat baru di era modern.

Pesan Menag

Menag Nasaruddin Umar memberikan pesan yang mendalam dalam peresmian tersebut. Ia menegaskan bahwa IABN Sriwijaya tidak boleh hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, melainkan juga harus menjadi mercusuar kearifan lokal, pusat moderasi beragama, dan benteng kebangsaan yang turut membentuk generasi emas Indonesia.

Pertama, sebagai mercusuar kearifan lokal, IABN Sriwijaya diharapkan dapat menggali dan mengembangkan nilai-nilai kearifan lokal yang selaras dengan ajaran Buddha. Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, termasuk tradisi Buddhis yang telah berakar selama berabad-abad. Nilai-nilai seperti toleransi, harmoni, welas asih, dan gotong royong adalah bagian dari kearifan lokal yang perlu terus dilestarikan dan diajarkan kepada generasi muda.

Kedua, sebagai pusat moderasi beragama, IABN Sriwijaya diharapkan dapat menjadi contoh dalam praktik beragama yang moderat, inklusif, dan toleran. Moderasi beragama adalah kunci kerukunan di Indonesia yang majemuk. Institut ini harus mampu mendidik calon-calon pemimpin agama Buddha yang mampu berdialog dengan umat agama lain, menghargai perbedaan, dan menjaga kerukunan.

Ketiga, sebagai benteng kebangsaan, IABN Sriwijaya diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai kebangsaan, cinta tanah air, dan komitmen terhadap Pancasila dan UUD 1945. Agama dan kebangsaan tidak boleh dipertentangkan. Keduanya saling melengkapi dalam membangun karakter warga negara yang baik.

Keempat, dalam membentuk generasi emas Indonesia, IABN Sriwijaya diharapkan menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual, berkarakter, dan peduli terhadap persoalan masyarakat. Menag menyebut lulusan seperti ini sebagai "cendekiawan", yaitu orang-orang berilmu yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.

"Kita membutuhkan orang-orang berilmu yang memberikan dampak positif bagi masyarakat. Inilah yang saya sebut sebagai cendekiawan," kata Menag. Pesan ini menegaskan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya soal mencetak sarjana, tetapi juga tentang membentuk manusia yang utuh dan bermanfaat.

Komitmen Rektor

Rektor IABN Sriwijaya, Edi Ramawijaya Putra, menyampaikan komitmennya untuk menjadikan perubahan status kelembagaan sebagai momentum peningkatan mutu. Menurutnya, perubahan status kelembagaan bukan sekadar perubahan nama, tetapi juga amanah untuk meningkatkan mutu pendidikan, memperkuat tata kelola, dan memperluas kontribusi perguruan tinggi dalam pembangunan nasional.

"Perubahan nama dan status kelembagaan ini adalah amanah besar untuk membangun perguruan tinggi keagamaan yang berkualitas, inklusif, adaptif, dan berdampak nyata untuk masyarakat," kata Rektor. Ia juga menegaskan bahwa Peraturan Presiden Nomor 50 Tahun 2026 menjadi landasan bagi IABN Sriwijaya Tangerang untuk mengembangkan pendidikan tinggi yang berkualitas dan berdampak bagi masyarakat.

Rektor juga menegaskan komitmen kampus dalam menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Komitmen ini dalam rangka menciptakan lulusan yang tidak hanya unggul dalam hal akademik, tetapi juga memiliki integritas, berkarakter, dan dapat memberi solusi untuk berbagai persoalan bangsa.

"Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia untuk menyongsong Indonesia Emas 2045," kata dia. Indonesia Emas 2045 adalah visi Indonesia untuk menjadi negara maju, berdaulat, adil, dan makmur pada usia 100 tahun kemerdekaan. Untuk mewujudkan visi tersebut, diperlukan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing. IABN Sriwijaya berkomitmen menjadi bagian dari upaya tersebut.

Peran Strategis IABN Sriwijaya

IABN Sriwijaya memiliki peran strategis dalam pengembangan pendidikan tinggi Buddha di Indonesia. Beberapa peran tersebut antara lain:

  1. Pencetak Tenaga Pendidik dan Penyuluh Agama Buddha. IABN Sriwijaya menghasilkan lulusan yang siap menjadi guru agama Buddha, penyuluh, dan pembimbing spiritual di masyarakat.

  2. Pusat Kajian dan Penelitian Buddhisme. Institut ini menjadi pusat penelitian tentang ajaran Buddha, sejarah, budaya, dan isu-isu kontemporer yang relevan dengan umat Buddha.

  3. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Buddha. IABN Sriwijaya berperan dalam menyusun dan mengembangkan kurikulum pendidikan agama Buddha yang relevan dengan kebutuhan zaman.

  4. Pusat Moderasi Beragama. Sebagai institut keagamaan negeri, IABN Sriwijaya menjadi contoh dalam praktik beragama yang moderat, toleran, dan inklusif.

  5. Pelestarian Budaya Buddhis. Institut ini berperan dalam melestarikan seni, sastra, dan tradisi Buddhis yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

  6. Kerja Sama Internasional. IABN Sriwijaya dapat menjalin kerja sama dengan universitas dan lembaga Buddhis di luar negeri, seperti di Thailand, Sri Lanka, India, dan negara lainnya.

  7. Pengabdian kepada Masyarakat. Institut ini berperan dalam memberikan pelayanan dan pemberdayaan kepada masyarakat, khususnya umat Buddha, melalui berbagai program.

Dengan peran-peran tersebut, IABN Sriwijaya diharapkan dapat menjadi institusi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Tantangan ke Depan

Meskipun transformasi ini adalah langkah maju, IABN Sriwijaya menghadapi sejumlah tantangan ke depan. Berikut beberapa di antaranya:

  1. Peningkatan Mutu Akademik. Status institut menuntut standar akademik yang lebih tinggi, termasuk kualitas dosen, kurikulum, penelitian, dan publikasi.

  2. Pengembangan Program Studi. IABN Sriwijaya perlu mengembangkan program studi yang relevan dengan kebutuhan zaman, tanpa meninggalkan akar keagamaan Buddha.

  3. Penguatan Tata Kelola. Sebagai institut, IABN Sriwijaya memerlukan sistem tata kelola yang lebih profesional, transparan, dan akuntabel.

  4. Peningkatan Sarana dan Prasarana. Untuk mendukung kegiatan akademik, diperlukan fasilitas yang memadai, seperti perpustakaan, laboratorium, ruang kelas, dan sarana digital.

  5. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Diperlukan dosen dan tenaga kependidikan yang berkualitas, serta program pengembangan berkelanjutan.

  6. Jejaring dan Kerja Sama. IABN Sriwijaya perlu memperluas kerja sama dengan berbagai pihak, baik di dalam maupun luar negeri.

  7. Relevansi dengan Kebutuhan Masyarakat. Institut ini harus memastikan bahwa lulusannya relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

  8. Moderasi dan Toleransi. Sebagai pusat moderasi beragama, IABN Sriwijaya harus konsisten dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi dan kerukunan.

Tips bagi Calon Mahasiswa

Bagi siswa yang tertarik melanjutkan pendidikan di IABN Sriwijaya Tangerang, berikut beberapa tips yang bisa membantu:

  1. Kenali Program Studi. Pelajari program studi yang tersedia dan pilih yang sesuai dengan minat dan bakat.

  2. Pahami Visi dan Misi. Pahami visi dan misi institut agar Anda dapat berkontribusi sesuai dengan nilai-nilainya.

  3. Persiapkan Diri Akademik. Tingkatkan kemampuan akademik, terutama di bidang yang relevan dengan program studi pilihan.

  4. Pelajari Ajaran Buddha. Bagi yang beragama Buddha, perdalam pemahaman ajaran agama sebagai bekal studi.

  5. Ikuti Informasi Pendaftaran. Pantau laman resmi IABN Sriwijaya dan Kemenag untuk informasi pendaftaran.

  6. Cari Beasiswa. Cari informasi tentang beasiswa yang tersedia, baik dari pemerintah maupun lembaga lainnya.

  7. Siapkan Mental dan Adaptasi. Kuliah di institut keagamaan membutuhkan komitmen spiritual dan intelektual.

Penutup

Peresmian IABN Sriwijaya Tangerang sebagai Institut Agama Buddha Negeri pertama di Indonesia adalah tonggak sejarah yang membanggakan. Transformasi dari STABN menjadi IABN membuka peluang lebih luas bagi pengembangan pendidikan tinggi Buddha, peningkatan mutu akademik, dan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat. Menag Nasaruddin Umar telah menekankan pentingnya IABN Sriwijaya sebagai mercusuar kearifan lokal, pusat moderasi beragama, dan benteng kebangsaan. Rektor Edi Ramawijaya Putra berkomitmen untuk menjadikan institut ini berkualitas, inklusif, adaptif, dan berdampak nyata. Tantangan ke depan memang ada, tetapi dengan semangat dan kerja keras, IABN Sriwijaya dapat menjadi institusi unggul yang mencetak cendekiawan Buddha yang berkontribusi bagi Indonesia Emas 2045. Semoga artikel ini bermanfaat.

FAQ (Frequently Asked Questions)

1. Apa itu IABN Sriwijaya Tangerang?
Institut Agama Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang adalah institut agama Buddha negeri pertama di Indonesia, hasil transformasi dari STABN Sriwijaya berdasarkan Perpres Nomor 50 Tahun 2026.

2. Kapan IABN Sriwijaya diresmikan?
Diresmikan pada Rabu, 21 Oktober 2026, oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar.

3. Apa dasar hukum transformasi ini?
Peraturan Presiden Nomor 50 Tahun 2026.

4. Mengapa transformasi ini penting?
Karena menjadi institut agama Buddha negeri pertama di Indonesia, membuka peluang lebih luas untuk pengembangan pendidikan tinggi Buddha.

5. Apa pesan Menag dalam peresmian?
IABN Sriwijaya harus menjadi mercusuar kearifan lokal, pusat moderasi beragama, dan benteng kebangsaan yang membentuk generasi emas Indonesia.