Mahasiswa Stres Kuliah? Kenali Tanda dan Penyebabnya

Administrator
Mahasiswa Stres Kuliah? Kenali Tanda dan Penyebabnya

Rasa tidak nyaman hingga tekanan atau stres saat memasuki masa kuliah bukan hal yang jarang terjadi pada mahasiswa baru. Situasi ini juga dapat dirasakan bagi mahasiswa ongoing atau yang telah beradaptasi pada semester-semester sebelumnya. Dosen sekaligus psikolog Layanan Psikologi Universitas Hasanuddin (Unhas), Syarifa Nadhrah Mustamin, MSi, MPsi, Psikolog, mengatakan stres dapat dialami mahasiswa saat menghadapi tuntutan akademik, proses adaptasi perkuliahan dan pertemanan, maupun persoalan pribadi seperti isu dengan keluarga. Stres juga merupakan respons yang wajar terhadap tekanan.

Ia menambahkan, stres juga tidak selalu menjadi pertanda adanya gangguan kesehatan mental. Penting menurutnya untuk melihat kembali kemampuan individu dalam mengenali dan mengelola tekanan terhadap dirinya masing-masing. Lantas, kapan stres perlu mendapatkan perhatian tenaga ahli? Artikel ini akan membahas secara lengkap berdasarkan penjelasan dari Nadhrah dan sumber terpercaya lainnya.

Stres Mahasiswa

Memasuki dunia perkuliahan sering kali menjadi fase transisi yang penuh tantangan. Mahasiswa baru dihadapkan pada budaya akademik yang berbeda, tuntutan kemandirian yang lebih tinggi, serta lingkungan sosial yang baru. Tidak heran jika banyak yang merasa kewalahan. Namun, stres tidak hanya dialami oleh mahasiswa baru. Mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi, mahasiswa yang harus membagi waktu antara kuliah dan kerja, atau mereka yang menghadapi masalah pribadi juga rentan mengalami stres.

Menurut Nadhrah, stres adalah respons alami tubuh terhadap tekanan. Ia tidak selalu negatif. Dalam kadar tertentu, stres dapat memotivasi seseorang untuk menyelesaikan tugas dan mencapai tujuan. Namun, ketika stres sudah mengganggu fungsi sehari-hari, menurunkan kesejahteraan, dan membuat seseorang merasa tidak berdaya, maka perlu ada perhatian serius.

Burnout

Salah satu tanda yang perlu disoroti yaitu burnout, kondisi kelelahan yang berkaitan dengan tekanan berkepanjangan, termasuk tekanan akademik. Nadhrah menjelaskan, burnout tersebut dapat muncul ketika mahasiswa menghadapi tuntutan perkuliahan yang sulit dikelola, terutama pada masa peralihan dari pendidikan sekolah menuju perguruan tinggi.

Pada masa adaptasi, menurutnya, mahasiswa baru kerap menghadapi tantangan untuk menyesuaikan diri dengan pola pembelajaran yang menuntut kemandirian lebih tinggi. “Kalau terkait dengan akademik, tentu pertama itu burnout biasanya. Banyak yang burnout, terlalu kaget sama, misalnya mahasiswa baru kaget sama budaya universitas yang terlalu banyak tugasnya, yang harus banyak mandiri,” jelas Nadhrah dalam Unhas TV

Burnout tidak hanya menyerang mahasiswa baru. Memasuki tingkat akhir studi, risiko burnout masih dapat muncul. Contohnya pada masa penyusunan skripsi, yang mengharuskan mahasiswa mengatur jadwal bimbingan dan menyelesaikan penelitian secara mandiri. Tekanan untuk segera lulus, tuntutan orang tua, dan ketidakpastian masa depan dapat memperparah kondisi ini.

Faktor Pemberat Tekanan Psikologis

Selain tuntutan akademik, Nadhrah menyoroti faktor persoalan keluarga, pengalaman kehilangan, maupun kesulitan pribadi yang dapat menambah tekanan psikologis. Faktor-faktor tersebut menurutnya dapat saling berkaitan. Hal inilah yang membuat pengalaman stres setiap mahasiswa dapat berbeda-beda.

Misalnya, mahasiswa yang berasal dari luar kota mungkin merasa kesepian karena jauh dari keluarga. Mahasiswa yang memiliki masalah keuangan bisa cemas tentang biaya kuliah dan hidup. Mahasiswa yang mengalami putus cinta atau kehilangan orang terdekat juga rentan mengalami stres. Belum lagi tekanan dari media sosial yang menampilkan kehidupan “sempurna” orang lain, yang bisa memicu perasaan tidak cukup baik.

Semua faktor ini bisa saling memperkuat. Seorang mahasiswa yang sedang burnout karena tugas kuliah, ditambah masalah keluarga, bisa mengalami depresi jika tidak ditangani dengan baik. Oleh karena itu, penting untuk tidak mengabaikan tanda-tanda awal stres.

Kapan Harus Mencari Pertolongan?

Nadhrah mengatakan, penting untuk menghubungi tenaga ahli saat mahasiswa mulai merasa kewalahan menghadapi stres, kesulitan menentukan prioritas, atau tidak mampu mengelola beban yang dihadapi hingga memengaruhi kesejahteraan psikologisnya. Ia menjelaskan, dukungan sosial dan layanan psikologis dari tenaga ahli dapat membantu mahasiswa memahami serta menghadapi tekanan yang dialaminya.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Merasa sedih, cemas, atau marah terus-menerus tanpa sebab jelas.

  • Kehilangan minat pada aktivitas yang biasanya menyenangkan.

  • Sulit tidur atau tidur berlebihan.

  • Perubahan nafsu makan yang drastis.

  • Sulit berkonsentrasi dan mengambil keputusan.

  • Menarik diri dari pergaulan.

  • Muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain.

Jika tanda-tanda ini muncul, jangan ragu untuk mencari bantuan. Bisa dimulai dengan bercerita kepada teman dekat, keluarga, atau dosen pembimbing akademik. Jika belum cukup, konseling dengan psikolog atau psikiater adalah langkah yang tepat.

Langkah Awal Mengelola Stres

Nadhrah mengingatkan, mahasiswa perlu mulai mengevaluasi kondisi diri saat merasa kewalahan (overwhelmed), kesulitan menentukan pekerjaan yang harus diprioritaskan, atau merasa tidak mampu mengatur berbagai tanggung jawab. Sebagai langkah awal penanganan stres, ia menyarankan agar mahasiswa merunutkan prioritas dan mengelola waktu. “Atur waktu, bikin skala prioritas, jangan semuanya mau diambil,” tuturnya.

Manajemen waktu yang baik dapat membantu mahasiswa mengurangi tekanan. Buatlah daftar tugas, tentukan mana yang paling mendesak dan penting, lalu kerjakan satu per satu. Jangan menunda pekerjaan hingga menumpuk. Belajar untuk mengatakan “tidak” pada aktivitas yang tidak terlalu penting juga merupakan keterampilan yang perlu dilatih.

Selain itu, jangan lupa untuk memberikan waktu istirahat. Tubuh dan pikiran memerlukan jeda untuk memulihkan energi. Tidur yang cukup, makan makanan bergizi, dan olahraga ringan dapat membantu menjaga kesehatan mental.

Pentingnya Dukungan Sosial

Nadhrah mengingatkan agar mahasiswa yang stres untuk menjaga hubungan sosial dan punya ruang untuk menyampaikan persoalan yang ia hadapi. Opsi mencari dukungan sosial ini contohnya seperti pada teman sebaya dan dosen pembimbing akademik. Bercerita kepada orang yang dipercaya dapat meringankan beban emosional. Kadang-kadang, kita hanya butuh didengarkan tanpa dihakimi.

Jika stres atau tekanan semakin sulit dikelola, Nadhrah mengimbau mahasiswa untuk tidak ragu meminta bantuan tenaga profesional. Bercerita dan memperoleh respons yang empatik menurutnya dapat membantu mahasiswa mengurai beban emosional yang sebelumnya terpendam.

Konseling dengan Tenaga Profesional

Di Unhas sendiri, ia mencontohkan, Layanan Psikologi di bawah Perpustakaan Pusat Unhas bisa dimanfaatkan juga secara gratis oleh dosen dan tenaga kependidikan yang memenuhi ketentuan universitas. Nadhrah menuturkan, ia dan rekan-rekan antara lain memberikan layanan konseling dan psikotes. Pada saat konseling, mahasiswa bisa punya ruang untuk didengarkan dengan empati dan tanpa dihakimi, sambil dibantu dalam memahami kondisi yang sedang ia hadapi.

Ia menggarisbawahi, konseling tidak selalu menghasilkan penyelesaian masalah secara langsung. Seseorang yang sedang konseling juga tidak harus langsung menemukan jawaban atas seluruh persoalannya. Psikolog maupun konselor dalam hal ini berperan dalam memberikan pendampingan agar individu dapat memahami persoalan, mengelola pengalaman emosional, serta mempertimbangkan opsi langkah tindak lanjut secara lebih jernih.

Jadi, jangan berharap konseling akan langsung menyelesaikan semua masalah. Anggap saja sebagai proses untuk memahami diri sendiri dan menemukan cara-cara baru dalam menghadapi tekanan. Konseling adalah ruang aman untuk bereksplorasi tanpa takut dihakimi.

Mencari Bantuan adalah Tindakan Sehat

Atas manfaat tersebut, Nadhrah berharap agar mahasiswa tak abai dengan kondisi kesehatan mentalnya sebelum harus ditangani ahli. Seperti halnya menjaga kesehatan fisik, perlu menurutnya untuk memberikan waktu untuk beristirahat, mengenali batas kemampuan diri, serta segera mencari dukungan ketika diperlukan.

Ia mengakui masih ada stigma pada orang yang mencari bantuan ahli seperti ke psikolog atau psikiater. Nadhrah menekankan, mencari bantuan profesional merupakan tindakan yang wajar dan bukan kelemahan, serta orang yang sehat bukan berarti tidak mengalami stres. Justru, menurutnya, kemampuan mampu mengenali kondisi diri, mengelola tekanan, serta mencari bantuan ketika diperlukan adalah kemampuan penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis mahasiswa selama studi.

“Beranilah mencari bantuan, karena mencari bantuan itu adalah hal yang sehat, hal yang wajar,” pesannya.

Stigma bahwa pergi ke psikolog berarti “gila” atau “lemah” harus dihapus. Sama seperti kita pergi ke dokter ketika sakit fisik, kita juga perlu pergi ke profesional ketika kesehatan mental terganggu. Kesehatan mental adalah bagian dari kesehatan secara keseluruhan.

Layanan Psikologi di Kampus

Banyak kampus di Indonesia kini menyediakan layanan konseling gratis bagi mahasiswa. Misalnya, di Unhas, Layanan Psikologi di bawah Perpustakaan Pusat Unhas dapat diakses oleh mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan. Layanan ini biasanya menawarkan konseling individual, psikotes, dan terkadang terapi kelompok.

Manfaatkan layanan ini dengan bijak. Jangan tunggu sampai masalah menjadi besar. Semakin cepat mencari bantuan, semakin mudah untuk mengatasinya. Jika Anda merasa malu atau takut, ingatlah bahwa konselor terlatih untuk menjaga kerahasiaan dan tidak menghakimi.

Kesimpulan

Stres saat kuliah adalah hal yang wajar, tetapi bukan berarti harus dibiarkan. Kenali tanda-tandanya, seperti burnout, kelelahan berkepanjangan, dan ketidakmampuan mengelola beban. Evaluasi diri, atur waktu, dan jaga hubungan sosial. Jika stres sudah mengganggu kesejahteraan, jangan ragu mencari bantuan profesional. Konseling bukan tanda kelemahan, melainkan tindakan sehat. Manfaatkan layanan psikologi kampus yang tersedia. Ingat, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Beranilah mencari bantuan, karena itu adalah langkah bijak menuju kesejahteraan.

FAQ

1. Apa itu stres akademik?
Stres akademik adalah tekanan yang dialami mahasiswa akibat tuntutan perkuliahan, seperti tugas, ujian, dan penyusunan skripsi.

2. Apakah stres selalu buruk?
Tidak. Stres dalam kadar tertentu dapat memotivasi. Namun, stres yang berlebihan dan berkepanjangan dapat merusak kesehatan mental.

3. Apa itu burnout?
Burnout adalah kondisi kelelahan ekstrem akibat tekanan berkepanjangan. Gejalanya meliputi kelelahan fisik dan emosional, sinisme, dan penurunan prestasi.

4. Apa penyebab burnout pada mahasiswa?
Tuntutan akademik yang tinggi, kurang istirahat, manajemen waktu yang buruk, dan tekanan dari lingkungan.

5. Kapan saya harus mencari bantuan profesional?
Jika Anda merasa kewalahan, sulit mengelola emosi, atau stres mengganggu fungsi sehari-hari. Jangan tunggu sampai parah.

6. Apa tanda-tanda saya perlu konseling?
Sedih berkepanjangan, cemas berlebihan, sulit tidur, kehilangan minat, dan muncul pikiran negatif tentang diri sendiri.

7. Apakah pergi ke psikolog itu tanda kelemahan?
Tidak. Mencari bantuan adalah tindakan bijak dan sehat. Sama seperti pergi ke dokter saat sakit fisik.

8. Apa yang dilakukan psikolog dalam konseling?
Mendengarkan dengan empati, membantu memahami masalah, dan mengeksplorasi opsi solusi. Tidak menghakimi.

9. Apakah konseling menjamin masalah langsung selesai?
Tidak. Konseling adalah proses. Tujuannya membantu Anda mengelola emosi dan menemukan cara menghadapi masalah.

10. Di mana saya bisa mendapatkan layanan konseling gratis?
Banyak kampus memiliki layanan psikologi gratis. Tanyakan ke bagian kemahasiswaan atau layanan kesehatan mental kampus.