Kamu pernah dengar Jurusan Teknologi Kesehatan Gigi? Jurusan ini belum setenar Kedokteran Gigi yang menjadi incaran banyak pelajar saat mendaftar perguruan tinggi negeri (PTN). Di Indonesia, jurusan ini masih terbatas di beberapa PTN saja, misalnya di Universitas Airlangga (Unair). Awalnya, program studi ini berdiri tahun 2014 sebagai Diploma III Teknik Gigi. Namun, pada 2024 program studi ini bertransformasi jadi Sarjana Terapan (D4) Teknologi Kesehatan Gigi (TKG). Transformasi ini menjadi tonggak penting bagi pengembangan keilmuan di bidang teknologi kesehatan gigi di Indonesia. Lantas, apa yang dipelajari di program studi ini? Bagaimana perbedaannya dengan Kedokteran Gigi? Dan apa saja prospek karier lulusannya? Artikel ini akan membahas secara lengkap berdasarkan penjelasan dari Dosen Teknologi Kesehatan Gigi Unair, Narta Nikita Sari, drg., MDSc.
Sekilas tentang Jurusan Teknologi Kesehatan Gigi
Teknologi Kesehatan Gigi (TKG) adalah program studi yang berada dalam rumpun ilmu kesehatan gigi dan mulut. Berbeda dengan Kedokteran Gigi yang lebih menitikberatkan pada aspek klinis, TKG lebih berfokus pada pembuatan produk gigi. Produk gigi yang dimaksud meliputi mahkota gigi, jembatan gigi, gigi tiruan, hingga prosthesis maksilofasial. Lulusan TKG bergelar Sarjana Terapan (S.Tr.Kes.), bukan sarjana kedokteran gigi (drg.). Gelar ini mencerminkan bahwa pendidikan yang ditempuh lebih menekankan pada keterampilan praktis dan aplikatif.
Awalnya, program studi ini berdiri pada tahun 2014 sebagai Diploma III Teknik Gigi. Pada tahun 2024, program studi ini bertransformasi menjadi Sarjana Terapan (D4) Teknologi Kesehatan Gigi. Transformasi ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas lulusan, memperluas kompetensi, dan membuka peluang karier yang lebih luas. Dengan gelar sarjana terapan, lulusan TKG diharapkan mampu bersaing di dunia kerja, baik di dalam maupun luar negeri.
Perbedaan TKG dengan Kedokteran Gigi
Niki menuturkan Jurusan TKG berbeda dengan Kedokteran Gigi. Perbedaan utama yang dapat terlihat adalah TKG tidak ada koas dan lulusan jurusan ini bergelar sarjana terapan. “Untuk program Teknologi Kesehatan Gigi, lulusannya bergelar Sarjana Terapan. Ini berbeda dengan Fakultas Kedokteran Gigi, yang mahasiswanya menempuh pendidikan sarjana terlebih dahulu, kemudian melanjutkan ke tahap koas,” tutur Niki.
Di program sarjana terapan, tambahnya, komposisi pembelajaran teori dan praktikum berbeda dengan program sarjana. Pada program sarjana, porsi pembelajaran teori lebih besar dibandingkan praktikum. Sementara itu, pada TKG, porsi praktikum mencapai 60 persen dari keseluruhan kegiatan pembelajaran. “Komposisi perkuliahan dan praktikum pada kedua program tersebut juga berbeda. Program sarjana umumnya lebih banyak menekankan teori. Sedangkan program sarjana terapan memiliki porsi praktikum yang lebih besar, yakni minimal sekitar 60 persen,” tambahnya.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa Teknologi Kesehatan Gigi (TKG) dan Kedokteran Gigi berada dalam rumpun ilmu yang sama. Tetapi memiliki fokus berbeda. TKG lebih berfokus pada pembuatan produk gigi, sedangkan Kedokteran Gigi lebih menitikberatkan pada aspek klinis. Dengan kata lain, jika Kedokteran Gigi mendiagnosis dan merawat pasien, maka TKG membuat piranti atau alat yang dibutuhkan oleh pasien berdasarkan resep atau permintaan dokter gigi.
Proses Perkuliahan di TKG
Sebelum mendaftar Program Studi TKG, sebagai calon mahasiswa ada baiknya kamu mengetahui proses perkuliahan di TKG. Selama menempuh delapan semester, mahasiswa TKG lebih banyak mendapatkan praktik dibandingkan teori. Porsi praktik minimal 60 hingga 70 persen dari keseluruhan kegiatan pembelajaran yang dilakukan. “Porsi praktikum dalam program ini mencapai sekitar 67 persen atau hampir 70 persen dari keseluruhan kegiatan pembelajaran,” ujar Niki.
Ia kemudian menjelaskan ada beberapa tahapan pembelajaran yang akan dilalui mahasiswa TKG. Pada semester satu dan dua, mahasiswa akan mengikuti pembelajaran dasar yang berfokus pada pembentukan karakter dan penguasaan dasar keilmuan. Pembelajaran ini dilakukan bersama dan tidak hanya diikuti mahasiswa TKG, tetapi juga mahasiswa dari program studi lain, seperti Kedokteran Gigi, Farmasi, dan lainnya. “Di Universitas Airlangga, ada yang disebut pembelajaran dasar bersama. Pembelajaran ini tidak hanya diikuti mahasiswa Teknologi Kesehatan Gigi, tetapi juga mahasiswa dari program studi lain, seperti Kedokteran Gigi, Farmasi, dan sebagainya,” terangnya.
Mahasiswa juga mempelajari teknik pelilinan atau waxing. Selain belajar karakter, mahasiswa diperkenalkan dengan alat dan material yang digunakan. Termasuk perangkat membuat dental device dan mengenal bahan-bahan yang digunakan. Setelah itu, mahasiswa belajar teknik pelilinan atau waxing. “Pada semester satu dan dua, mahasiswa juga mempelajari teknik pelilinan atau waxing. Jadi, selain materi keilmuan, terdapat unsur seni dan keterampilan dalam pembuatan piranti gigi, misalnya mahkota gigi,” ujarnya.
Tak hanya belajar teknik pembuatan dental device, di TKG juga belajar anatomi gigi, namun hanya digunakan sebagai dasar perencanaan pembuatan restorasi gigi. Semester berikutnya, ada pembelajaran membuat piranti gigi, termasuk prosthesis maksilofasial. Misalnya, pembuatan alat untuk menggantikan bagian tubuh tertentu bagi seseorang yang mengalami kecelakaan. Prosthesis maksilofasial ini sangat bermanfaat bagi pasien yang kehilangan bagian wajah atau mulut akibat kecelakaan, kanker, atau kelainan bawaan.
Mendekati semester akhir, mahasiswa mengikuti kegiatan KKN, dengan menekankan pada praktik langsung bersama masyarakat. Selain itu, dapat mengikuti program magang di berbagai tempat, seperti laboratorium gigi, rumah sakit, serta industri yang memproduksi bahan-bahan untuk kedokteran gigi. “Mahasiswa juga menjalani program magang di berbagai tempat, seperti laboratorium gigi, rumah sakit, rumah sakit gigi dan mulut pendidikan, serta industri yang memproduksi bahan-bahan untuk keteknisian gigi atau kedokteran gigi,” ungkapnya.
Kompetensi yang Dipelajari
Selama menempuh studi di TKG, mahasiswa akan mempelajari berbagai mata kuliah yang mendukung kompetensi mereka. Mata kuliah tersebut mencakup anatomi gigi dan mulut, material kedokteran gigi, teknik pembuatan gigi tiruan, teknik pembuatan mahkota dan jembatan, ortodonti, prosthesis maksilofasial, serta manajemen laboratorium gigi. Selain itu, mahasiswa juga dibekali dengan pengetahuan tentang teknologi digital di bidang kedokteran gigi, seperti CAD/CAM (Computer-Aided Design/Computer-Aided Manufacturing) yang kini semakin banyak digunakan dalam pembuatan restorasi gigi.
Kompetensi lulusan TKG meliputi kemampuan merancang, membuat, dan memodifikasi piranti gigi sesuai kebutuhan pasien. Mereka juga mampu bekerja sama dengan dokter gigi dalam perawatan pasien, mengelola laboratorium gigi, serta mengembangkan produk inovatif di bidang teknologi kesehatan gigi. Dengan kompetensi ini, lulusan TKG siap bekerja di berbagai sektor, mulai dari laboratorium gigi, rumah sakit, klinik estetika, hingga industri.
Prospek Karier Lulusan TKG
Menurut keterangan Niki, prospek kerja bagi mahasiswa lulusan TKG di era kini terbuka lebar. Mahasiswa dapat menerapkan keahlian yang sudah didapat selama perkuliahan dengan bekerja di beberapa tempat. Seperti laboratorium gigi di bawah rumah sakit maupun yang dikelola oleh swasta. Selain itu, lulusan TKG juga dapat bekerja di klinik estetika. Klinik estetika kini semakin diminati masyarakat, terutama untuk perawatan gigi dan senyum. Lulusan TKG dapat berperan sebagai teknisi gigi yang membuat veneer, mahkota gigi, atau piranti estetika lainnya.
Meski prospek kerja lebih banyak ke laboratorium gigi di rumah sakit maupun di klinik estetika, menurut Niki lulusan TKG berpeluang besar untuk masuk ke dalam bidang industri, salah satunya industri pembuatan keramik gigi. “Ada beberapa industri, misalnya industri pembuatan keramik dan bidang terkait lainnya, yang juga dapat menjadi tempat bagi lulusan untuk berkarier. Jadi, prospek kerjanya tidak terbatas pada profesi teknisi gigi, tetapi juga dapat berkembang sesuai dengan empat profil lulusan yang telah ditetapkan,” tutup Niki.
Empat profil lulusan TKG yang dimaksud meliputi:
-
Teknisi Gigi Profesional: Bekerja di laboratorium gigi, rumah sakit, atau klinik, membuat piranti gigi sesuai resep dokter gigi.
-
Wirausaha di Bidang Teknologi Kesehatan Gigi: Mendirikan laboratorium gigi atau usaha yang bergerak di bidang pembuatan piranti gigi.
-
Akademisi atau Peneliti: Melanjutkan studi ke jenjang magister dan doktor, serta menjadi dosen atau peneliti di bidang teknologi kesehatan gigi.
-
Profesional di Industri: Bekerja di industri yang memproduksi bahan, alat, atau teknologi untuk kedokteran gigi, seperti keramik gigi, material cetak, atau perangkat digital.
Dengan empat profil lulusan tersebut, lulusan TKG memiliki fleksibilitas karier yang tinggi. Mereka dapat memilih jalur yang sesuai dengan minat dan bakat masing-masing.
Mengapa Memilih Jurusan TKG?
Ada beberapa alasan mengapa Jurusan Teknologi Kesehatan Gigi layak dipertimbangkan oleh calon mahasiswa. Pertama, prospek karier yang jelas dan beragam. Lulusan TKG dibutuhkan di berbagai sektor, mulai dari laboratorium gigi hingga industri. Kedua, porsi praktikum yang besar. Dengan 60-70 persen praktik, mahasiswa lebih siap kerja karena memiliki keterampilan yang terasah. Ketiga, peluang wirausaha. Lulusan TKG dapat mendirikan laboratorium gigi sendiri, yang merupakan peluang bisnis menjanjikan.
Keempat, kontribusi sosial yang nyata. Lulusan TKG membantu pasien yang membutuhkan piranti gigi, termasuk mereka yang mengalami kecelakaan atau kelainan bawaan. Kelima, perkembangan teknologi. Bidang teknologi kesehatan gigi terus berkembang, terutama dengan hadirnya teknologi digital seperti CAD/CAM dan 3D printing. Lulusan TKG yang menguasai teknologi ini akan memiliki nilai jual tinggi. Keenam, gelar sarjana terapan yang diakui. Gelar S.Tr.Kes. setara dengan gelar sarjana lainnya dan diakui untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.
Ketujuh, lingkungan akademik yang mendukung. Unair sebagai salah satu PTN terkemuka memiliki fasilitas lengkap dan dosen berkualitas. Kedelapan, jaringan alumni yang luas. Lulusan TKG Unair tersebar di berbagai institusi dan industri. Kesembilan, peluang beasiswa. Tersedia berbagai beasiswa untuk mahasiswa TKG, baik dari pemerintah, kampus, maupun swasta. Kesepuluh, pengalaman belajar yang menarik. Mahasiswa TKG belajar membuat piranti gigi, yang menggabungkan seni, sains, dan teknologi.
Hal yang Perlu Diperhatikan
Meskipun menjanjikan, kuliah di TKG juga memiliki tantangan. Pertama, membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Pembuatan piranti gigi memerlukan presisi tinggi. Kedua, belajar anatomi gigi yang cukup kompleks. Ketiga, praktikum yang padat. Keempat, biaya bahan dan alat praktikum yang tidak sedikit. Kelima, perlu adaptasi dengan teknologi digital. Keenam, persaingan di dunia kerja yang semakin ketat. Ketujuh, perlu menjaga kesehatan fisik, terutama mata dan tangan, karena pekerjaan ini banyak menggunakan penglihatan dan keterampilan motorik halus. Kedelapan, perlu terus belajar dan mengikuti perkembangan teknologi. Kesembilan, perlu membangun jaringan dengan dokter gigi, laboratorium, dan industri. Kesepuluh, perlu memiliki jiwa wirausaha jika ingin membuka usaha sendiri.
Kesimpulan
Jurusan Teknologi Kesehatan Gigi (TKG) adalah program studi sarjana terapan yang fokus pada pembuatan produk gigi. Berbeda dengan Kedokteran Gigi yang menitikberatkan aspek klinis, TKG lebih menekankan keterampilan praktis. Di Unair, TKG awalnya berdiri sebagai D3 Teknik Gigi pada 2014, lalu bertransformasi menjadi D4 TKG pada 2024. Selama delapan semester, mahasiswa TKG lebih banyak praktik (60-70 persen) dibandingkan teori. Mereka mempelajari anatomi gigi, teknik waxing, pembuatan mahkota dan jembatan, ortodonti, prosthesis maksilofasial, hingga teknologi digital. Prospek karier lulusan TKG sangat luas, meliputi teknisi gigi profesional, wirausaha, akademisi, dan profesional industri. Dengan prospek yang cerah dan kontribusi sosial yang nyata, TKG layak menjadi pilihan bagi calon mahasiswa yang tertarik pada bidang kesehatan gigi dan teknologi.
FAQ
1. Apa itu Jurusan Teknologi Kesehatan Gigi (TKG)?
Program studi sarjana terapan yang fokus pada pembuatan produk gigi, seperti mahkota, jembatan, gigi tiruan, dan prosthesis maksilofasial.
2. Apa bedanya TKG dengan Kedokteran Gigi?
TKG lebih fokus pada pembuatan produk gigi dan tidak ada koas. Lulusannya bergelar Sarjana Terapan (S.Tr.Kes.). Kedokteran Gigi lebih fokus pada aspek klinis dan lulusannya bergelar drg.
3. Di kampus mana TKG tersedia?
Salah satunya di Universitas Airlangga (Unair).
4. Kapan TKG Unair berdiri?
Awalnya berdiri pada 2014 sebagai D3 Teknik Gigi, lalu bertransformasi menjadi D4 TKG pada 2024.
5. Berapa lama masa studi TKG?
Delapan semester (4 tahun).
6. Berapa porsi praktikum di TKG?
Sekitar 60-70 persen dari keseluruhan kegiatan pembelajaran.
7. Apa saja yang dipelajari di TKG?
Anatomi gigi, material kedokteran gigi, teknik waxing, pembuatan mahkota dan jembatan, ortodonti, prosthesis maksilofasial, dan teknologi digital.
8. Apakah ada program magang?
Ya, mahasiswa magang di laboratorium gigi, rumah sakit, dan industri.
9. Apa gelar lulusan TKG?
Sarjana Terapan (S.Tr.Kes.).
10. Apa prospek karier lulusan TKG?
Teknisi gigi profesional, wirausaha laboratorium gigi, akademisi/peneliti, dan profesional industri.