Perbandingan Peta Mercator dan Equal Earth: Kelebihan dan Kekurangannya

Administrator
Perbandingan Peta Mercator dan Equal Earth: Kelebihan dan Kekurangannya

Pernahkah detikers memperhatikan peta dunia di dinding kelas atau atlas sekolah? Lalu, apakah terlihat bahwa ukuran Greenland hampir sebesar Benua Afrika? Padahal dalam kenyataannya, luas Afrika mencapai sekitar 14 kali lipat dari Greenland lho. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ilusi visual inilah yang mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan penggunaan peta Equal Earth (Peta Bumi Setara). Resolusi PBB ini mendorong lembaga-lembaga internasional untuk mulai beralih dari proyeksi Mercator konvensional ke Equal Earth.

PBB ingin menghadirkan proporsi luas benua yang lebih adil dan akurat, terutama untuk benua Afrika. Kepala Laboratorium Kartografi, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Ari Cahyono, menjelaskan alasan ilmiah lainnya. Menurutnya, perubahan tampilan ukuran wilayah di peta sangat bergantung pada sistem proyeksi yang dipilih kartografer. Secara sederhana, proyeksi peta adalah metode ilmiah untuk memindahkan permukaan bumi yang berbentuk lengkung tiga dimensi (3D) ke atas bidang datar dua dimensi (2D).

Mengapa Peta Bisa Menyesatkan?

Menurut Ari, proses memipihkan bola bumi ini mustahil dilakukan tanpa menimbulkan distorsi. Distorsi yang dimaksud adalah perubahan pada aspek tertentu, baik itu bentuk wilayah, luas, jarak, maupun sudut arah. "Dari bentuk yang bidang lengkung ke bidang datar itu pasti akan timbul distorsi. Sehingga peta yang dihasilkan itu tidak mungkin 100 persen benar pada semua aspek. Tidak mungkin dia bisa mempertahankan bentuk wilayah, luas wilayah, jarak, maupun sudut, semuanya dengan benar," jelas Ari.

Peta dunia yang paling umum kita lihat di buku pelajaran maupun peta dinding selama berabad-abad adalah rancangan Gerardus Mercator yang dibuat pada abad ke-16. Proyeksi Mercator sengaja dirancang untuk membantu navigasi pelayaran laut karena mampu mempertahankan sudut dan arah mata angin secara konsisten. Namun, keunggulan navigasi ini dibayar mahal dengan distorsi luas wilayah yang parah. Terutama di daerah yang semakin jauh dari garis khatulistiwa (lintang tinggi).

Akibatnya, wilayah kutub dan lintang tinggi seperti Greenland, Antarktika, Amerika Utara, dan Eropa terlihat membengkak jauh lebih besar dari ukuran aslinya. Sebaliknya, wilayah yang berada tepat di sekitar ekuator seperti Benua Afrika dan Indonesia mengalami distorsi luas yang relatif kecil. Wilayah-wilayah tersebut secara visual tampak jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan benua-benua di belahan utara. Inilah sebabnya mengapa Greenland yang luasnya hanya sekitar 2,16 juta km persegi terlihat hampir sebesar Afrika yang luasnya mencapai 30,37 juta km persegi.

Perbandingan Mercator dan Equal Earth

"Kalau peta gunanya untuk pelayaran, Mercator tetap bagus. Tapi ketika ingin memberikan persepsi orang akan suatu wilayah, yang mana persepsi antarnegara satu dengan negara lain itu punya persepsi yang sama akan kondisi wilayah yang sebenarnya, maka lebih cocok pakai Equal Earth," terang Ari. Berbeda dengan Mercator, proyeksi Equal Earth sengaja diciptakan dengan prinsip mempertahankan perbandingan luas wilayah secara proporsional. Melalui Equal Earth, perbandingan luas Afrika dengan benua lain kini ditampilkan secara riil.

Pasalnya, representasi visual pada peta jenis ini sangat memengaruhi cara berpikir dan persepsi manusia terhadap kondisi geopolitik serta geografis dunia. Jika suatu wilayah terlihat lebih kecil di peta, masyarakat berisiko memiliki pemahaman yang keliru. "Karena peta itu sebagai representasi visual, maka tentu kita bicara persepsi visual manusia. Persepsi kita dalam membaca peta yang benar dengan persepsi kita akan wilayah yang kita bayangkan tadi pasti berpengaruh," tuturnya.

Equal Earth pertama kali diperkenalkan pada tahun 2018 oleh trio kartografer: Bojan Šavrič, Tom Patterson, dan Bernhard Jenny. Proyeksi ini dirancang sebagai alternatif yang lebih adil dibandingkan Mercator, terutama setelah muncul kritik bahwa peta Mercator cenderung mendistorsi wilayah belahan bumi selatan dan ekuator. Equal Earth mempertahankan rasio luas antarwilayah, sehingga Afrika, Amerika Selatan, dan Asia Tenggara tampil dengan ukuran yang lebih proporsional.

Kecocokan Peta Tergantung Kebutuhan

Walaupun Equal Earth unggul dalam menampilkan perbandingan luas benua, Ari menegaskan bahwa proyeksi ini tidak serta-merta menggantikan seluruh fungsi peta lain. Dalam ilmu kartografi, setiap sistem proyeksi memiliki kegunaan masing-masing. Misalnya, proyeksi azimutal biasanya ideal untuk memetakan kawasan kutub. Sedangkan proyeksi Kerucut digunakan untuk wilayah lintang tengah. Kemudian, ada juga proyeksi silinder yang lebih sesuai untuk kebutuhan tertentu di wilayah sekitar khatulistiwa. "Tidak ada satu sistem proyeksi pun yang fit for all purposes. Jadi, tidak bisa untuk semua keperluan," tegasnya.

Melihat kondisi Indonesia yang terletak di garis ekuator, Ari menyarankan penggunaan Equal Earth. Peta ini sangat relevan untuk diterapkan di bangku sekolah agar para siswa dan guru memiliki gambaran objektif mengenai perbandingan luas negara dan benua. Dengan Equal Earth, siswa dapat memahami bahwa Afrika jauh lebih luas daripada Greenland, bahwa Amerika Selatan tidak sekecil yang terlihat di Mercator, dan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis di khatulistiwa dengan luas yang signifikan.

Google Maps dan Web Mercator

Ari juga mengingatkan masyarakat yang kerap menggunakan aplikasi peta digital sehari-hari, seperti Google Maps. Perlu diketahui, Google Maps menggunakan sistem proyeksi Web Mercator. Sistem ini memang memudahkan penyajian peta digital global secara cepat dan teratur di layar ponsel, tetapi tetap mewarisi kelemahan Mercator, yakni melebih-lebihkan ukuran daratan di lintang tinggi. Jadi, jika Anda melihat peta dunia di Google Maps, jangan heran jika Greenland terlihat sangat besar. Itu adalah salah satu contoh distorsi yang dihasilkan oleh proyeksi Mercator.

"Setiap peta pasti ada distorsi yang terjadi karena bentuk aslinya itu bulat, diproyeksikan dari tiga dimensi ke dua dimensi. Namun, pasti ada suatu aspek yang dipertahankan sesuai dengan tujuan pemetaannya," pungkas Ari. Pernyataan ini menegaskan bahwa tidak ada peta yang sempurna. Setiap peta memiliki trade-off antara akurasi luas, bentuk, jarak, dan arah. Tugas kartografer adalah memilih proyeksi yang paling sesuai dengan tujuan peta tersebut.

Mengapa Persepsi Visual Penting?

Persepsi visual memainkan peran besar dalam cara kita memahami dunia. Sejak kecil, kita melihat peta Mercator di buku pelajaran dan peta dinding. Tanpa disadari, peta tersebut membentuk cara pandang kita terhadap ukuran dan posisi benua. Misalnya, banyak orang mengira Greenland adalah pulau terbesar di dunia, padahal sebenarnya Greenland adalah pulau terbesar, tetapi ukurannya jauh lebih kecil dari Afrika. Orang juga sering mengira bahwa Eropa lebih besar dari Afrika Selatan, padahal Afrika Selatan saja sudah lebih luas dari Eropa Barat.

Peta juga memengaruhi persepsi geopolitik. Negara-negara di lintang tinggi terlihat lebih besar dan dominan, sementara negara-negara di ekuator terlihat lebih kecil. Hal ini dapat memengaruhi cara kita memandang kekuatan ekonomi, populasi, dan sumber daya alam suatu wilayah. Oleh karena itu, penggunaan peta yang lebih adil seperti Equal Earth menjadi penting, terutama dalam pendidikan.

Peta untuk Pendidikan

Dalam konteks pendidikan, peta bukan hanya alat bantu visual, tetapi juga sumber pengetahuan. Jika peta yang digunakan mengandung distorsi yang signifikan, maka pengetahuan yang diperoleh siswa juga bisa keliru. Oleh karena itu, guru dan pembuat kebijakan pendidikan perlu mempertimbangkan penggunaan peta Equal Earth di sekolah-sekolah. Peta ini dapat membantu siswa memahami proporsi luas benua dan negara secara lebih akurat.

Selain itu, penggunaan Equal Earth juga dapat meningkatkan kesadaran siswa tentang keberagaman geografis dan pentingnya keadilan global. Mereka akan melihat bahwa Afrika, Amerika Selatan, dan Asia Tenggara memiliki luas yang signifikan, bukan sekadar wilayah pinggiran. Ini dapat menumbuhkan rasa hormat terhadap budaya dan bangsa lain, serta memperkuat kesadaran akan pentingnya kerja sama internasional.

Tantangan dan Peluang

Meskipun Equal Earth menawarkan banyak keunggulan, ada beberapa tantangan dalam implementasinya. Pertama, sosialisasi. Banyak orang sudah terbiasa dengan peta Mercator. Mengubah kebiasaan ini memerlukan waktu dan edukasi. Kedua, ketersediaan. Tidak semua atlas atau buku pelajaran menggunakan Equal Earth. Diperlukan upaya dari penerbit dan pembuat kebijakan untuk memperbarui materi.

Ketiga, preferensi navigasi. Untuk keperluan navigasi, Mercator tetap unggul. Jadi, Equal Earth tidak bisa menggantikan Mercator sepenuhnya. Keempat, biaya. Mencetak ulang peta dan buku pelajaran memerlukan biaya. Kelima, resistensi. Beberapa pihak mungkin merasa bahwa perubahan ini tidak perlu.

Namun, ada juga peluang. Pertama, teknologi digital memudahkan pembuatan dan distribusi peta Equal Earth. Kedua, kesadaran global tentang keadilan dan representasi semakin meningkat. Ketiga, PBB telah mendukung penggunaan Equal Earth. Keempat, banyak organisasi dan lembaga pendidikan yang mulai beralih. Kelima, generasi muda lebih terbuka terhadap perubahan.

Kesimpulan

Perbedaan antara peta Mercator dan Equal Earth bukan sekadar soal estetika, tetapi soal akurasi dan keadilan representasi. Mercator unggul untuk navigasi, tetapi mendistorsi luas wilayah. Equal Earth menawarkan proporsi luas yang lebih adil, meskipun tidak sempurna. Pakar UGM, Dr Ari Cahyono, menyarankan penggunaan Equal Earth untuk pendidikan, terutama di Indonesia yang terletak di ekuator. Dengan Equal Earth, siswa dapat memahami dunia secara lebih objektif. Mari kita dukung penggunaan peta yang lebih adil dan akurat untuk generasi mendatang.

FAQ

1. Apa itu proyeksi peta?
Proyeksi peta adalah metode memindahkan permukaan bumi yang lengkung (3D) ke bidang datar (2D).

2. Mengapa peta Mercator mendistorsi luas wilayah?
Karena Mercator mempertahankan sudut dan arah, tetapi mengorbankan akurasi luas, terutama di lintang tinggi.

3. Apa itu peta Equal Earth?
Peta yang mempertahankan perbandingan luas wilayah secara proporsional, diperkenalkan pada 2018.

4. Mengapa Greenland terlihat besar di Mercator?
Karena distorsi Mercator membesarkan wilayah di lintang tinggi.

5. Apakah Equal Earth menggantikan Mercator?
Tidak sepenuhnya. Mercator masih berguna untuk navigasi.

6. Peta apa yang digunakan Google Maps?
Google Maps menggunakan Web Mercator.

7. Apakah ada peta yang sempurna?
Tidak. Setiap proyeksi memiliki distorsi.

8. Mengapa PBB mendukung Equal Earth?
Untuk representasi luas benua yang lebih adil, terutama Afrika.

9. Apa kata pakar UGM tentang peta untuk pelajar?
Dr Ari Cahyono menyarankan Equal Earth untuk pendidikan.

10. Apa dampak peta terhadap persepsi?
Peta memengaruhi cara kita memandang ukuran dan posisi benua.