Bagi sebagian orang, jurusan yang berkaitan dengan pengaturan dokumen lama atau arsip selalu dilekatkan dengan Jurusan Ilmu Sejarah maupun Ilmu Perpustakaan. Namun, tahukah kamu bahwa ada Jurusan Manajemen Rekod dan Arsip (MRA)? Jurusan ini belum setenar jurusan lain dan hanya terdapat di beberapa universitas saja, termasuk di Universitas Indonesia (UI). Program studi ini sudah berdiri sejak 1982 yang masih D2 Kearsipan. Tahun 1983 berubah jadi D3 Kearsipan dan tahun 2000 program D3 menjadi Manajemen Informasi dan Dokumen (MID). Selanjutnya, pada 2021, jurusan ini bertransformasi menjadi D4 atau sarjana terapan dengan nama Manajemen Rekod dan Arsip.
Lantas, apa yang membedakan jurusan ini dengan yang lain, apa yang dipelajari, dan bagaimana prospek kerjanya? Artikel ini akan membahas secara lengkap penjelasan dari Ketua Program Studi Manajemen Rekod dan Arsip Universitas Indonesia, Niko Grataridarga, S.Hum., M.Hum., tentang jurusan ini. Kita akan mengulas perbedaan MRA dengan Ilmu Sejarah, mata kuliah yang dipelajari setiap semester, keterampilan yang dibekalkan, prospek kerja, serta FAQ di bagian akhir. Simak dengan saksama.
Sekilas Tentang Jurusan MRA
Manajemen Rekod dan Arsip adalah program studi sarjana terapan (D4) yang berada di bawah payung Ilmu Informasi. Jurusan ini bersinggungan dengan pengelolaan informasi, khususnya rekod dan arsip. Rekod sendiri adalah arsip yang dikelola instansi untuk keperluan bisnis atau administrasi perusahaan. Menurut Niko Grataridarga, rekod adalah arsip-arsip yang tercipta dan dikelola oleh suatu instansi untuk keperluan proses bisnis atau administrasi mereka.
"Rekod adalah arsip-arsip yang tercipta dan dikelola oleh suatu instansi untuk keperluan proses bisnis atau administrasi mereka," tutur Niko.
MRA mempelajari arsip dalam konteks aktivitas bisnis di organisasi maupun perusahaan. Dalam hal ini, organisasi atau perusahaan menciptakan arsip dan MRA mempelajari arsip dinamis tersebut. "Kita mempelajarinya dalam konteks aktivitas bisnis sehari-hari (daily activity) suatu organisasi. Setiap unit atau divisi dalam organisasi maupun perusahaan pasti menciptakan arsip," katanya.
Dengan demikian, MRA bukan sekadar belajar tentang arsip lama yang disimpan di gudang. Lebih dari itu, MRA mempelajari siklus hidup arsip, mulai dari penciptaan, pengelolaan, penyimpanan, hingga penyusutan dan penggunaan kembali. Jurusan ini sangat relevan dengan kebutuhan organisasi modern yang semakin bergantung pada data dan informasi.
Perbedaan MRA dengan Ilmu Sejarah
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah apa bedanya MRA dengan Ilmu Sejarah atau Ilmu Perpustakaan. Niko menjelaskan bahwa Ilmu Sejarah lebih menekankan pada arsip statis yang memiliki nilai sejarah untuk dipelajari. "Sejarah sendiri, mungkin dalam keilmuan sejarah, titik beratnya ada pada arsip statis atau archives, yaitu arsip-arsip yang memiliki nilai sejarah dan dapat dipelajari," ujarnya.
Sedangkan MRA lebih fokus pada arsip dinamis yang masih digunakan untuk keperluan operasional organisasi. MRA mempelajari bagaimana arsip diciptakan, dikelola, dan dimanfaatkan untuk mendukung proses bisnis. Jadi, jika Ilmu Sejarah melihat arsip sebagai sumber penelitian masa lalu, MRA melihat arsip sebagai aset informasi yang harus dikelola secara efisien dan sistematis.
Sementara itu, Ilmu Perpustakaan lebih fokus pada pengelolaan koleksi buku dan bahan pustaka lainnya. Meskipun ada irisan dalam hal pengelolaan informasi, MRA memiliki fokus yang lebih spesifik pada rekod dan arsip organisasi. MRA juga lebih menekankan pada aspek teknologi informasi, basis data, dan visualisasi data.
Mata Kuliah di Jurusan MRA
Selama delapan semester, mahasiswa MRA mempelajari berbagai mata kuliah yang berkaitan dengan pengelolaan rekod dan arsip. Menurut Niko, di semester 1 mahasiswa akan mempelajari pengantar ilmu kearsipan, pengelolaan arsip konvensional, elektronik, dan digital. Kemudian di semester 2 hingga 4, mahasiswa akan lebih banyak melakukan praktik, mulai dari penciptaan arsip, penataan, pemberkasan, hingga penyimpanan arsip. Selain itu, juga belajar sistem elektronik kearsipan, standar, dan pedoman dalam pengelolaan arsip secara internasional maupun nasional.
"Penciptaan arsip, baik elektronik maupun konvensional. Kemudian, pengelolaan arsip, mulai dari penataan, pemberkasan, hingga penyimpanan arsip. Selain itu, mahasiswa juga mempelajari sistem kearsipan elektronik, standar, serta pedoman yang digunakan dalam penyimpanan arsip, baik secara nasional maupun internasional," kata Niko.
Sebagaimana sarjana terapan lainnya, porsi praktik lebih besar dibandingkan pemaparan teori. Di MRA UI sendiri, praktik minimal 70 persen dan 30 persen teori. Selama menjalani praktik ini, mahasiswa akan diajar oleh dosen-dosen praktisi yang juga bekerja di instansi maupun industri. Ini menjadi nilai tambah karena mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung dari para ahli di bidangnya.
Selanjutnya, di semester 5, mahasiswa akan dituntut melakukan kegiatan magang untuk menerapkan langsung keilmuannya di industri. Sementara itu, di semester 6 hingga 7 ada kegiatan proyek kearsipan untuk mengatasi permasalahan kearsipan di beberapa institusi.
"Di Prodi MRA sendiri, pada semester 6 dan 7 terdapat mata kuliah yang disebut Proyek Kearsipan. Dalam mata kuliah ini, mahasiswa kembali terjun ke industri untuk mengerjakan proyek manajemen guna mengatasi berbagai permasalahan kearsipan di institusi yang mereka tuju," ujarnya.
Semester delapan, tambah Niko, mahasiswa mulai menyusun skripsi terapan. Di semester ini, ada praktik di kelas sekaligus di tempat industri. Jadi, bisa dikatakan bahwa MRA sangat menekankan pada penerapan praktis ilmu kearsipan di dunia nyata.
Keterampilan yang Dimiliki Mahasiswa MRA
Lulusan MRA Universitas Indonesia tentunya dibekali dengan berbagai keterampilan yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Niko mengungkapkan selama berkuliah, mahasiswa MRA akan dibekali kemampuan mengelola arsip, mulai dari penciptaan, pengelolaan, dan penyimpanan, diseminasi, dan penggunaan arsip.
"Profil lulusan kami tentunya tetap berfokus pada kemampuan mengelola arsip, mulai dari penciptaan, pengelolaan, penyimpanan, hingga penyusutan, diseminasi, dan penggunaan arsip," ungkapnya.
Selain itu, tambahnya, mahasiswa juga mempelajari teknologi kearsipan digital, basis data kearsipan, serta analisis dan visualisasi data untuk menjawab tantangan di era digital.
"Kami juga membekali mahasiswa agar mampu melakukan hal tersebut. Karena itu, kami memiliki mata kuliah tentang basis data kearsipan dan teknologi arsip elektronik, termasuk untuk visualisasi data. Pembelajaran ini ditujukan untuk menjawab tantangan di dunia digital," tambahnya.
Dari kemampuan tersebut, jurusan ini layak untuk dipertimbangkan karena memiliki prospek kerja yang luas di dunia industri, terutama di bagian pengelolaan arsip. Mahasiswa MRA tidak hanya belajar tentang arsip konvensional, tetapi juga arsip digital yang semakin relevan di era transformasi digital.
Prospek Kerja Lulusan MRA
Niko mengatakan bahwa Indonesia masih memerlukan tenaga arsiparis di sektor pemerintahan maupun sektor swasta. Apalagi, di tengah perkembangan teknologi informasi dan teknologi saat ini semakin banyak pihak yang membutuhkan tenaga untuk mengelola hasil transaksi bisnis elektronik.
"Apalagi, dengan perkembangan teknologi informasi dan teknologi digital saat ini, semakin banyak pihak yang membutuhkan tenaga untuk mengelola hasil transaksi bisnis elektronik. Hasil transaksi tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk analisis data, visualisasi data, prediksi, hingga peramalan (forecasting)," ungkapnya.
Lulusan MRA dapat bekerja di berbagai instansi, seperti:
-
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)
-
Kementerian dan lembaga pemerintah
-
Perusahaan swasta (bank, asuransi, perusahaan teknologi, manufaktur)
-
Lembaga penelitian dan pendidikan
-
Rumah sakit dan institusi kesehatan
-
Organisasi internasional
Beberapa posisi yang bisa diisi antara lain:
-
Arsiparis
-
Records Manager
-
Data Manager
-
Information Governance Officer
-
Digital Archivist
-
Compliance Officer
-
Knowledge Manager
Selain itu, lulusan MRA juga bisa berwirausaha dengan membuka jasa konsultasi kearsipan, pengelolaan dokumen, atau pelatihan manajemen rekod. Peluang ini semakin terbuka seiring dengan meningkatnya kesadaran organisasi akan pentingnya pengelolaan arsip yang baik.
Mengapa Memilih Jurusan MRA?
Ada beberapa alasan mengapa jurusan MRA layak dipertimbangkan:
-
Prospek Kerja Luas. Hampir semua organisasi membutuhkan pengelolaan arsip yang baik, mulai dari instansi pemerintah hingga perusahaan swasta.
-
Relevan dengan Era Digital. MRA membekali mahasiswa dengan keterampilan teknologi kearsipan digital, basis data, dan visualisasi data.
-
Porsi Praktik Besar. Dengan 70 persen praktik, mahasiswa lebih siap menghadapi dunia kerja.
-
Dosen Praktisi. Mahasiswa diajar oleh dosen yang juga praktisi di industri.
-
Peluang Magang dan Proyek Nyata. Mahasiswa terjun langsung ke industri untuk menyelesaikan permasalahan kearsipan.
-
Gelar Sarjana Terapan. Lulusan mendapatkan gelar S.Tr. yang setara dengan sarjana dan diakui secara nasional.
-
Belum Banyak Pesaing. Jurusan ini belum setenar jurusan lain, sehingga persaingan di dunia kerja relatif lebih longgar.
Tips Kuliah di Jurusan MRA
Bagi Anda yang tertarik kuliah di jurusan MRA, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:
-
Kuasai Dasar-Dasar Kearsipan. Pahami konsep dasar rekod dan arsip, serta siklus hidup arsip.
-
Pelajari Teknologi Informasi. Kemampuan mengoperasikan perangkat lunak kearsipan dan basis data sangat penting.
-
Latih Kemampuan Analisis Data. Visualisasi data dan analisis menjadi nilai tambah di era digital.
-
Aktif dalam Praktik dan Magang. Manfaatkan setiap kesempatan untuk belajar langsung di lapangan.
-
Bangun Jaringan. Berkenalan dengan dosen praktisi dan profesional di bidang kearsipan.
-
Ikuti Sertifikasi. Ada beberapa sertifikasi kearsipan yang bisa meningkatkan kompetensi dan daya saing.
-
Jaga Integritas. Arsip adalah sumber informasi yang harus dijaga kerahasiaan dan keasliannya.
Kesimpulan
Jurusan Manajemen Rekod dan Arsip (MRA) adalah jurusan yang unik dan menjanjikan. Meskipun belum setenar jurusan lain, MRA menawarkan kombinasi ilmu kearsipan, teknologi informasi, dan manajemen bisnis yang sangat relevan dengan kebutuhan industri modern. Dengan porsi praktik yang besar, dosen praktisi, serta peluang magang dan proyek nyata, lulusan MRA siap bersaing di dunia kerja.
Prospek kerja lulusan MRA sangat luas, mulai dari arsiparis, records manager, hingga digital archivist. Di era digital seperti sekarang, kemampuan mengelola arsip elektronik dan menganalisis data menjadi keterampilan yang sangat dicari. Jadi, jika Anda tertarik pada pengelolaan informasi dan ingin berkarier di bidang yang prospektif, MRA bisa menjadi pilihan yang tepat. Semoga artikel ini bermanfaat.
FAQ (Frequently Asked Questions)
1. Apa itu Jurusan Manajemen Rekod dan Arsip (MRA)?
MRA adalah program studi sarjana terapan (D4) yang mempelajari pengelolaan rekod dan arsip dalam konteks aktivitas bisnis organisasi. Jurusan ini berada di bawah payung Ilmu Informasi.
2. Apa bedanya MRA dengan Ilmu Sejarah?
Ilmu Sejarah fokus pada arsip statis yang memiliki nilai sejarah. MRA fokus pada arsip dinamis yang masih digunakan untuk keperluan operasional organisasi.
3. Apa bedanya MRA dengan Ilmu Perpustakaan?
Ilmu Perpustakaan fokus pada pengelolaan koleksi buku dan bahan pustaka. MRA fokus pada pengelolaan rekod dan arsip organisasi, termasuk arsip digital.
4. Di kampus mana saja jurusan MRA tersedia?
Saat ini, MRA tersedia di Universitas Indonesia (UI) dan beberapa kampus lain. Jumlahnya masih terbatas.
5. Apa saja mata kuliah di jurusan MRA?
Mata kuliah meliputi pengantar ilmu kearsipan, pengelolaan arsip konvensional dan elektronik, penataan, pemberkasan, penyimpanan, sistem kearsipan elektronik, basis data kearsipan, dan visualisasi data.
6. Berapa lama masa studi di jurusan MRA?
Masa studi adalah 8 semester (4 tahun) untuk jenjang D4 atau sarjana terapan.
7. Apakah porsi praktik lebih besar dari teori?
Ya. Di MRA UI, porsi praktik minimal 70 persen dan teori 30 persen.
8. Apakah ada program magang?
Ya. Di semester 5, mahasiswa wajib mengikuti magang di industri atau instansi.
9. Apa itu Proyek Kearsipan?
Proyek Kearsipan adalah mata kuliah di semester 6 dan 7 di mana mahasiswa terjun ke industri untuk menyelesaikan permasalahan kearsipan.
10. Gelar apa yang didapat lulusan MRA?
Lulusan mendapatkan gelar S.Tr. (Sarjana Terapan) yang setara dengan sarjana dan diakui secara nasional.