Menyusun skripsi adalah perjalanan akademik yang menuntut ketelitian, terutama pada tahap pengumpulan data. Di sinilah instrumen penelitian menjadi kunci utama: alat untuk mengukur, mengamati, atau menggali data dari responden atau objek penelitian. Data dari Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan Kemendikbudristek (2024) menunjukkan bahwa 47% mahasiswa akhir yang mengaku proposal skripsinya pernah ditolak, dengan salah satu penyebab utamanya adalah lemahnya metodologi—termasuk instrumen yang tidak valid atau tidak dijelaskan dengan baik. Sementara itu, survei Forum Mahasiswa Peneliti Indonesia (2025) terhadap 1.000 mahasiswa menemukan bahwa 68% responden merasa kesulitan menyusun kuesioner yang baik, dan 55% bingung merancang pedoman wawancara yang terstruktur.
Instrumen penelitian yang baik bukan sekadar daftar pertanyaan. Ia harus valid (mengukur apa yang seharusnya diukur), reliabel (konsisten), dan objektif. Artikel ini akan memandu Anda langkah demi langkah membuat tiga jenis instrumen paling umum dalam skripsi: kuesioner (angket), pedoman wawancara, dan lembar observasi, lengkap dengan contoh, tips, dan daftar periksa (checklist) yang bisa langsung digunakan.
Baca Juga
Cara Membuat Email Baru untuk Keperluan Sekolah dan Kuliah: Gmail & Outlook
Pengertian dan Jenis Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ilmiah. Menurut Prof. Dr. Sugiyono dalam buku Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (2024), instrumen adalah "suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati". Sementara itu, Suharsimi Arikunto dalam Prosedur Penelitian mendefinisikan instrumen sebagai "alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatan mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan mudah".
Dalam penelitian skripsi, tiga instrumen yang paling sering digunakan adalah:
-
Kuesioner (Angket) – untuk penelitian kuantitatif. Berisi daftar pertanyaan tertulis yang dijawab oleh responden.
-
Pedoman Wawancara – untuk penelitian kualitatif atau campuran. Berisi daftar pertanyaan terbuka yang diajukan secara lisan.
-
Lembar Observasi – untuk mengamati perilaku, kondisi, atau peristiwa secara langsung. Berisi daftar cek (checklist) atau skala penilaian.
Pemilihan instrumen bergantung pada pendekatan penelitian, jenis data yang dibutuhkan, dan sumber data. Penelitian kuantitatif dominan menggunakan kuesioner. Kualitatif menggunakan pedoman wawancara mendalam dan lembar observasi. Mixed methods menggabungkan semuanya.
Cara Membuat Kuesioner

Kuesioner adalah instrumen andalan penelitian survei. Agar menghasilkan data yang akurat, kuesioner harus disusun secara sistematis.
Langkah 1: Kaji Teori dan Operasionalkan Variabel
Sebelum menulis pertanyaan, Anda harus sudah memiliki definisi konseptual dan operasional dari setiap variabel penelitian. Operasionalisasi variabel adalah proses menjabarkan variabel abstrak menjadi indikator-indikator yang terukur. Contoh: Variabel "Motivasi Belajar" dapat dijabarkan menjadi indikator: (a) ketekunan mengerjakan tugas, (b) keinginan mencari materi tambahan, (c) ketahanan menghadapi kesulitan. Setiap indikator kemudian dikembangkan menjadi butir-butir pertanyaan.
Langkah 2: Tentukan Skala Pengukuran
Skala yang paling populer untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi adalah Skala Likert (1–5). Contoh:
1 = Sangat Tidak Setuju, 2 = Tidak Setuju, 3 = Ragu-ragu, 4 = Setuju, 5 = Sangat Setuju.
Selain Likert, ada Skala Guttman (Ya/Tidak), Skala Semantik Diferensial, atau Skala Thurstone. Pilih yang paling sesuai dengan jenis data yang ingin Anda kumpulkan.
Langkah 3: Tulis Butir-Butir Pertanyaan
Ikuti kaidah penulisan butir soal:
-
Gunakan bahasa sederhana dan lugas, hindari istilah asing yang tidak perlu.
-
Satu butir hanya mengandung satu gagasan. Jangan: "Apakah dosen menjelaskan dengan jelas dan memberikan tugas yang banyak?" (Ini dua hal berbeda).
-
Hindari pertanyaan yang mengarahkan (leading). Contoh buruk: "Bukankah Anda setuju bahwa perpustakaan kita sudah bagus?"
-
Hindari pertanyaan negatif ganda. Contoh membingungkan: "Apakah Anda tidak setuju jika mahasiswa tidak perlu membayar uang praktikum?"
-
Sertakan pertanyaan positif dan negatif untuk menghindari bias respons.
-
Lengkapi dengan petunjuk pengisian yang jelas.
Langkah 4: Uji Validitas dan Reliabilitas
Setelah kuesioner jadi, lakukan uji coba terbatas (pilot test) kepada 30 responden yang mirip dengan populasi target. Data hasil uji coba digunakan untuk menguji:
-
Validitas: Sejauh mana butir soal mengukur apa yang seharusnya diukur. Gunakan korelasi Pearson Product Moment (r hitung > r tabel = valid).
-
Reliabilitas: Sejauh mana instrumen menghasilkan data yang konsisten. Gunakan Alpha Cronbach (nilai > 0,70 dianggap reliabel). Butir yang tidak valid harus direvisi atau dibuang.
Contoh Penggalan Kuesioner:
"Petunjuk: Berilah tanda centang (✓) pada kolom yang sesuai dengan pendapat Anda. (1 = Sangat Tidak Setuju, 5 = Sangat Setuju)."
| No | Pernyataan | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Saya selalu mengerjakan tugas tepat waktu. | |||||
| 2 | Saya mencari materi tambahan di internet. |
Baca Juga
Contoh Surat Keterangan Lulus Sekolah yang Resmi untuk Melamar Kerja
Cara Membuat Pedoman Wawancara

Wawancara digunakan untuk menggali informasi mendalam yang tidak bisa didapatkan lewat kuesioner. Pedoman wawancara berfungsi sebagai "kompas" agar wawancara tidak melenceng, namun tetap fleksibel.
Jenis Pedoman Wawancara:
-
Terstruktur: Daftar pertanyaan sudah baku, semua responden mendapat pertanyaan yang sama persis. Cocok untuk penelitian dengan banyak informan.
-
Semi-Terstruktur: Ada daftar pertanyaan inti, tetapi pewawancara bisa mengembangkan pertanyaan lanjutan (probing) sesuai jawaban informan. Ini yang paling banyak digunakan dalam skripsi.
-
Tidak Terstruktur: Hanya berupa topik-topik besar, tanpa daftar pertanyaan rinci. Cocok untuk wawancara mendalam dengan tokoh kunci.
Langkah-Langkah Menyusun Pedoman Wawancara Semi-Terstruktur:
Langkah 1: Tentukan Tujuan Wawancara dan Informan
Jawab: Data apa yang ingin saya gali? Dari siapa? (Misal: Guru BK, Kepala Sekolah, Siswa). Setiap kategori informan mungkin memerlukan pedoman yang sedikit berbeda.
Langkah 2: Buat Daftar Topik dan Pertanyaan Kunci
Jangan langsung menulis pertanyaan detail. Mulailah dari topik besar, lalu turunkan menjadi pertanyaan kunci. Contoh: Topik: "Strategi Guru Mengatasi Kenakalan Siswa". Pertanyaan kunci:
-
"Apa saja bentuk kenakalan yang sering terjadi?"
-
"Bagaimana biasanya Bapak/Ibu menanganinya?"
-
"Apa kendala yang dihadapi?"
Langkah 3: Susun Urutan Pertanyaan secara Logis
Gunakan urutan "piramida terbalik": mulai dari pertanyaan umum yang mudah dijawab, baru kemudian ke pertanyaan spesifik atau sensitif. Contoh:
-
Bisa ceritakan sedikit tentang latar belakang Anda mengajar di sini? (Pembuka ringan)
-
Bagaimana suasana kelas biasanya?
-
Apa tantangan terbesar dalam mendidik siswa di sekolah ini?
-
(Pertanyaan spesifik) Pernahkah Anda menangani kasus perkelahian antar siswa? Bagaimana kronologinya?
Langkah 4: Siapkan Pertanyaan Probing (Penggali)
Probing adalah pertanyaan lanjutan untuk memperdalam jawaban. Contoh: "Bisa dijelaskan lebih detail?", "Mengapa Anda memilih cara itu?", "Bagaimana perasaan Anda saat itu?"
Langkah 5: Lengkapi dengan Identitas dan Prosedur
Tuliskan: judul penelitian, nama pewawancara, tanggal, waktu, tempat, nama informan (bisa diinisialkan), dan durasi wawancara.
Langkah 6: Uji Coba dan Revisi
Lakukan simulasi dengan teman. Apakah pertanyaannya mudah dipahami? Apakah ada pertanyaan yang membuat tidak nyaman?
Cara Membuat Lembar Observasi

Observasi digunakan untuk mengamati perilaku, interaksi, atau kondisi fisik secara langsung. Lembar observasi adalah panduan untuk mencatat apa yang dilihat dan didengar di lapangan secara sistematis.
Jenis Observasi:
-
Observasi Partisipan: Peneliti ikut terlibat dalam kegiatan yang diamati.
-
Observasi Non-Partisipan: Peneliti hanya mengamati dari luar, tidak ikut serta.
Langkah-Langkah Menyusun Lembar Observasi:
Langkah 1: Tentukan Fokus Observasi
Apa yang akan diamati? Misalnya: "Aktivitas belajar siswa di perpustakaan", "Praktik guru dalam mengelola kelas", atau "Kondisi sanitasi kantin sekolah".
Langkah 2: Jabarkan Fokus Menjadi Aspek dan Indikator
Ini sama seperti operasionalisasi variabel pada kuesioner. Contoh fokus: "Keterampilan Guru Membuka Pelajaran". Aspek: (a) menarik perhatian siswa, (b) memberi motivasi, (c) memberi acuan materi. Setiap aspek dijabarkan menjadi indikator yang lebih rinci.
Langkah 3: Pilih Format Pencatatan
-
Checklist (✓) : Cocok untuk mengamati kemunculan atau ketiadaan suatu perilaku. Contoh:
-
Guru memberi salam: ☐ Ya ☐ Tidak
-
Guru mengecek kehadiran: ☐ Ya ☐ Tidak
-
-
Skala Penilaian (Rating Scale) : Cocok untuk menilai kualitas atau intensitas suatu perilaku.
-
1 = Kurang, 2 = Cukup, 3 = Baik, 4 = Sangat Baik.
-
-
Catatan Anekdot (Field Notes) : Ruang kosong untuk menulis deskripsi naratif singkat tentang apa yang terjadi. Ini penting untuk menangkap kejadian tak terduga yang tidak masuk checklist.
Langkah 4: Uji Coba Lembar Observasi
Lakukan observasi percobaan. Apakah indikatornya mudah diamati dalam waktu yang tersedia? Apakah ada perilaku penting yang belum tercakup?
Contoh Cuplikan Lembar Observasi (Checklist + Catatan):
| No | Aspek yang Diamati | Ya | Tidak | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Guru menyampaikan tujuan pembelajaran | ✓ | Disampaikan secara lisan di awal | |
| 2 | Guru mengaitkan materi dengan pengalaman siswa | ✓ | Langsung masuk ke materi buku | |
| 3 | Guru menggunakan media pembelajaran visual | ✓ | Menampilkan slide PowerPoint |
Uji Coba Instrumen: Validitas, Reliabilitas, dan Keterbacaan
Apapun jenis instrumennya, uji coba (pilot test) adalah wajib. Banyak mahasiswa melewatkan langkah ini dan baru sadar instrumennya bermasalah setelah data terkumpul. Akibatnya fatal: data tidak bisa digunakan, harus mengulang dari awal, dan waktu skripsi molor.
Untuk Kuesioner:
-
Validitas Isi (Content Validity) : Minta pendapat ahli (dosen pembimbing, pakar) untuk menilai apakah butir-butir pertanyaan sudah mewakili semua indikator. Gunakan lembar validasi ahli.
-
Validitas Konstruk (Construct Validity) : Uji statistik (korelasi Pearson) pada data uji coba.
-
Reliabilitas: Hitung Alpha Cronbach. Targetkan >0,70.
Untuk Pedoman Wawancara:
-
Validitas: Diskusikan dengan dosen pembimbing. Apakah pertanyaan sudah mencakup semua tujuan penelitian? Apakah bahasanya tidak ambigu?
-
Keterbacaan: Uji coba dengan 1–2 orang yang mirip informan target. Apakah mereka memahami maksud pertanyaan? Apakah ada pertanyaan yang membuat mereka tersinggung?
Untuk Lembar Observasi:
-
Validitas: Minta ahli menilai kesesuaian indikator dengan teori. Uji coba bersama pengamat lain (inter-rater reliability). Jika Anda dan teman Anda mengamati objek yang sama, apakah hasil pengamatan Anda mirip? Diskusikan perbedaannya untuk menyamakan persepsi.
Penutup
Instrumen penelitian adalah "senjata" utama Anda dalam mengumpulkan data skripsi. Kuesioner, pedoman wawancara, dan lembar observasi yang disusun dengan cermat, diuji validitas dan reliabilitasnya, serta disetujui pembimbing akan sangat menentukan kualitas hasil penelitian. Jangan terburu-buru pada tahap ini. Luangkan waktu untuk mengkaji teori, menjabarkan indikator, menulis pertanyaan, dan mengujinya. Ingat, data yang buruk tidak akan menghasilkan kesimpulan yang baik, secanggih apa pun analisisnya. Selamat menyusun instrumen, dan semoga skripsi Anda berjalan lancar!
Baca Juga
Syarat Beasiswa Kuliah ke Luar Negeri Untuk Lulusan SMA (Panduan Lengkap)
FAQ
1. Apakah satu penelitian bisa menggunakan lebih dari satu instrumen?
Ya, bahkan sangat dianjurkan. Ini disebut triangulasi. Misalnya, Anda menyebar kuesioner, lalu mewawancarai beberapa responden terpilih untuk memperdalam temuan kuesioner, dan melakukan observasi untuk melihat apakah jawaban mereka konsisten dengan perilakunya.
2. Berapa jumlah minimal responden untuk uji coba kuesioner?
Minimal 30 orang. Ini sudah memenuhi syarat minimal untuk analisis statistik korelasi. Semakin banyak, semakin baik.
3. Apakah pedoman wawancara harus dihafal?
Tidak perlu dihafal, tetapi Anda harus sangat menguasainya. Gunakan pedoman sebagai panduan, bukan naskah yang dibaca kaku. Wawancara yang baik mengalir seperti percakapan alami.
4. Bagaimana jika saat observasi, objek yang diamati tidak berperilaku alami karena merasa diawasi?
Ini disebut Hawthorne effect. Untuk meminimalkannya, lakukan observasi beberapa kali hingga mereka terbiasa dengan kehadiran Anda. Pilih posisi yang tidak mencolok. Jelaskan bahwa yang diamati adalah situasi, bukan individu tertentu.
5. Apakah boleh menggunakan instrumen dari penelitian orang lain?
Boleh, dengan syarat: Anda harus meminta izin, mencantumkan sumber dengan jelas, dan wajib menyesuaikan dengan konteks, populasi, dan variabel penelitian Anda. Jangan copy-paste mentah-mentah. Uji validitas ulang.