Jelang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA/sederajat pada akhir Oktober 2026, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti berpesan agar siswa tidak berkecil hati saat menghadapi soal dengan bacaan panjang. Ia juga menyebut soal TKA disusun dengan mengacu standar Programme for International Student Assessment (PISA). TKA yang akan digelar pada 26 Oktober hingga 8 November 2026 ini menjadi momen penting bagi siswa kelas 12 karena hasilnya akan menjadi validator nilai rapor dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Oleh karena itu, persiapan yang matang tidak bisa ditawar lagi.
Mendikdasmen turut menyebutkan tiga persiapan penting menghadapi TKA. “Pertama, kuasai materi. Kedua, siapkan strategi. Ketiga, persiapkan mental. Ketiga itu adalah kuncinya,” kata Mu'ti di SMA Negeri 1 Patikraja, Banyumas, Jawa Tengah (10/10/2026), dikutip dari Kemendikdasmen. Pesan ini sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam. Banyak siswa yang hanya fokus pada penguasaan materi, tetapi mengabaikan strategi dan mental. Padahal, ketiganya saling berkaitan dan menentukan hasil akhir.
Mu'ti mengingatkan ketiga persiapan ini perlu disiapkan secara seimbang. Ia menegaskan, jika materi dikuasai, tetapi strategi salah, maka tidak akan bisa menguasai materi dengan baik. “Tapi strateginya oke, mentalnya down, lihat soal sudah stres dulu, tidak ada hasilnya. Makanya kita membuat moto jujur dan gembira,” ucap Mendikdasmen. Moto “jujur dan gembira” ini menjadi pengingat bahwa ujian bukanlah momok yang menakutkan. Kejujuran dalam mengerjakan soal dan kegembiraan dalam menjalani proses adalah kunci untuk tampil optimal.
Mengapa Soal TKA Menggunakan Teks Panjang?
Banyak siswa mengeluh ketika menghadapi soal dengan bacaan panjang. Mereka merasa waktu terbuang hanya untuk membaca, belum lagi harus memahami isi dan menjawab pertanyaan. Namun, Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kemendikdasmen melalui akun Instagram resmi menjelaskan bahwa soal TKA menggunakan teks panjang sebagai stimulus. Wacana-wacana tersebut menghadirkan konteks dunia nyata ke dalam ruang ujian. Sehingga, siswa diajak melihat keterkaitan langsung antara teori di buku dengan masalah autentik di kehidupan sehari-hari.
Dalam kerangka TKA, soal bisa disajikan dalam konteks tertentu. Konteks juga bervariasi sesuai karakteristik setiap mata pelajaran. Menguasai suatu konsep bukan berarti hanya mengetahui dan memahami, tetapi juga dapat menggunakan pengetahuan atau konsep dalam berbagai situasi. Inilah yang ingin diukur oleh TKA. Bukan sekadar hafalan, melainkan kemampuan menerapkan pengetahuan.
Kemudian, konsep bisa dihadirkan melalui stimulus. Dalam TKA, stimulus merupakan informasi yang menjadi dasar untuk menjawab soal. Bentuknya bisa berupa teks, gambar, tabel, grafik, diagram, atau data. Dengan stimulus, soal dapat memberikan konteks yang memicu siswa menggunakan pengetahuannya dalam berbagai situasi. Stimulus menjembatani teori di kelas dengan dunia luar.
Maka dari itu, siswa nantinya tidak cuma menguasai konten, tetapi juga menguasai konsep dan penerapannya dalam kehidupan. Stimulus bukan sekadar bacaan sebelum soal. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari soal itu sendiri. Tanpa memahami stimulus, siswa akan kesulitan menjawab pertanyaan. Oleh karena itu, kemampuan membaca kritis dan memahami informasi menjadi sangat penting.
Berkaitan dengan Pembelajaran Mendalam
Penggunaan konteks dan stimulus yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari selaras dengan prinsip pembelajaran mendalam. Prinsip ini menekankan dua hal utama: bermakna (meaningful) dan berkesadaran (mindful).
Pertama, bermakna. Konteks menjembatani teori di kelas dengan realitas di dunia luar. Siswa tidak hanya menguasai konten, tetapi akan memahami bagaimana pengetahuan bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, soal matematika tentang bunga bank dapat membantu siswa memahami cara mengelola keuangan. Soal biologi tentang virus dapat membantu siswa memahami pentingnya vaksinasi. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih relevan dan menarik.
Kedua, berkesadaran. Stimulus mendorong siswa terbiasa membaca kritis, menyaring informasi yang kompleks, dan membangun pemahaman bermakna, tidak sekadar mengingat. Siswa dilatih untuk tidak menerima informasi mentah-mentah, tetapi menganalisis, mengevaluasi, dan menarik kesimpulan. Kemampuan ini sangat berharga, tidak hanya untuk ujian, tetapi juga untuk kehidupan.
Metode Penilaian IRT
Penilaian atau scoring dalam TKA menggunakan metode IRT (Item Response Theory). Metode ini sejak lama digunakan dalam asesmen-asesmen internasional seperti Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) dan PISA. Dengan metode IRT, setiap butir soal dinilai sesuai bobot tantangan agar tidak ada peserta yang dirugikan oleh variasi paket soal.
Apa maksudnya? Dalam ujian konvensional, semua soal dianggap memiliki bobot yang sama. Padahal, tingkat kesulitan soal bisa berbeda-beda. Dengan IRT, soal yang lebih sulit akan memiliki bobot yang berbeda dalam perhitungan skor. Dengan demikian, siswa yang mendapatkan paket soal lebih sulit tidak dirugikan dibandingkan siswa yang mendapatkan paket soal lebih mudah. Metode ini memastikan keadilan bagi semua peserta.
Selain itu, IRT juga memungkinkan pengukuran kemampuan siswa secara lebih presisi. Skor yang dihasilkan bukan sekadar jumlah jawaban benar, tetapi estimasi kemampuan yang mempertimbangkan karakteristik soal. Inilah sebabnya skor TKA menggunakan skala 200-800, bukan 0-100. Skala ini memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kemampuan siswa.
Tiga Persiapan Menghadapi TKA
Mendikdasmen menekankan tiga persiapan penting: kuasai materi, siapkan strategi, dan persiapkan mental. Mari kita bahas satu per satu.
1. Kuasai Materi
Penguasaan materi adalah fondasi utama. Tanpa pemahaman yang cukup tentang materi yang diujikan, siswa akan kesulitan menjawab soal, apalagi soal yang menuntut analisis. Oleh karena itu, siswa perlu belajar dengan tekun, memahami konsep, bukan sekadar menghafal. Gunakan berbagai sumber belajar, seperti buku teks, modul, video pembelajaran, dan latihan soal. Jangan ragu untuk bertanya kepada guru atau teman jika ada yang belum dipahami.
Selain itu, penting untuk memahami kisi-kisi TKA. Kisi-kisi memberikan gambaran tentang materi yang akan diujikan. Dengan memahami kisi-kisi, siswa dapat memfokuskan belajar pada topik-topik yang relevan. Jangan membuang waktu mempelajari hal-hal yang tidak akan keluar.
2. Siapkan Strategi
Strategi adalah cara siswa mengelola waktu, membaca soal, dan menjawab pertanyaan. Strategi yang baik dapat membantu siswa mengoptimalkan skor. Beberapa strategi yang dapat diterapkan:
-
Baca soal dengan cermat. Jangan terburu-buru. Pahami apa yang diminta soal.
-
Identifikasi informasi penting. Dalam soal dengan teks panjang, tandai informasi kunci yang relevan dengan pertanyaan.
-
Kelola waktu. Jangan terlalu lama pada satu soal. Jika sulit, lewati dulu, kerjakan soal lain, lalu kembali jika ada waktu.
-
Isi semua jawaban. Tidak ada nilai minus, jadi jangan biarkan ada soal kosong.
-
Gunakan teknik eliminasi. Jika ragu, eliminasi pilihan yang jelas salah, lalu pilih yang paling masuk akal.
-
Latihan soal. Semakin sering berlatih, semakin terbiasa dengan pola soal dan semakin cepat dalam menjawab.
3. Persiapkan Mental
Mental yang kuat adalah kunci terakhir, tetapi tidak kalah penting. Banyak siswa yang sudah menguasai materi dan memiliki strategi, tetapi gagal karena mentalnya down. Mereka stres, cemas, dan tidak bisa fokus. Oleh karena itu, persiapan mental harus dilakukan.
Beberapa cara untuk mempersiapkan mental:
-
Kelola stres. Lakukan teknik relaksasi, seperti pernapasan dalam, meditasi, atau mendengarkan musik.
-
Istirahat cukup. Tidur yang cukup membantu otak bekerja optimal.
-
Makan bergizi. Asupan makanan yang sehat menjaga energi dan konsentrasi.
-
Berpikir positif. Yakinlah pada kemampuan diri sendiri. Jangan membandingkan diri dengan orang lain.
-
Berdoa. Bagi yang religius, doa memberikan ketenangan.
-
Bayangkan sukses. Visualisasikan diri Anda berhasil mengerjakan soal dengan baik.
Dengan mental yang kuat, siswa dapat menghadapi soal-soal sulit dengan tenang dan fokus. Mereka tidak mudah menyerah dan tetap berusaha memberikan yang terbaik.
Tips Menghadapi Soal
Soal dengan teks panjang sering kali membuat siswa panik. Padahal, dengan strategi yang tepat, soal seperti ini bisa dikerjakan dengan efisien. Berikut beberapa tips:
-
Baca pertanyaan terlebih dahulu. Ini membantu Anda mengetahui informasi apa yang perlu dicari dalam teks.
-
Skim teks. Bacalah teks dengan cepat untuk mendapatkan gambaran umum.
-
Baca teks dengan cermat. Setelah mengetahui pertanyaan, baca teks dengan lebih teliti, fokus pada bagian yang relevan.
-
Tandai informasi penting. Gunakan pensil untuk menandai kata kunci, angka, atau konsep penting.
-
Jangan terpaku pada detail yang tidak perlu. Fokus pada informasi yang menjawab pertanyaan.
-
Gunakan konteks. Manfaatkan petunjuk konteks untuk memahami makna kata atau konsep yang tidak dikenal.
-
Jawab dengan tenang. Jangan terburu-buru. Pastikan jawaban sesuai dengan pertanyaan.
Peran Guru dan Sekolah
Guru dan sekolah memiliki peran penting dalam mempersiapkan siswa menghadapi TKA. Guru dapat memberikan bimbingan belajar, latihan soal, dan simulasi TKA. Mereka juga dapat membantu siswa memahami kisi-kisi dan strategi menjawab soal. Sekolah dapat menyediakan fasilitas belajar yang memadai, seperti ruang belajar yang nyaman, akses internet, dan buku referensi.
Selain itu, guru dan sekolah perlu memberikan dukungan moral kepada siswa. Jangan menambah beban dengan tekanan berlebihan. Ciptakan lingkungan yang kondusif dan menyenangkan. Ingatlah moto “jujur dan gembira”. Ujian bukanlah akhir dari segalanya, tetapi bagian dari proses belajar.
Kesimpulan
TKA SMA/sederajat 2026 akan segera dilaksanakan. Mendikdasmen Abdul Mu'ti berpesan agar siswa tidak berkecil hati menghadapi soal dengan bacaan panjang. Soal TKA disusun mengacu standar PISA dan menggunakan teks panjang sebagai stimulus untuk menghadirkan konteks dunia nyata. Ada tiga persiapan penting: kuasai materi, siapkan strategi, dan persiapkan mental. Metode penilaian IRT memastikan keadilan bagi semua peserta. Dengan persiapan yang matang dan seimbang, siswa dapat menghadapi TKA dengan percaya diri. Ingatlah moto “jujur dan gembira”. Jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan, belajar dengan tekun, dan berdoa. Semoga sukses!
FAQ
1. Kapan TKA SMA/sederajat 2026 dilaksanakan?
26 Oktober – 8 November 2026.
2. Apa itu TKA?
Tes Kemampuan Akademik, ujian yang menjadi validator nilai rapor untuk SNBP.
3. Mengapa soal TKA menggunakan teks panjang?
Sebagai stimulus untuk menghadirkan konteks dunia nyata dan menguji kemampuan menerapkan konsep.
4. Apa standar yang digunakan dalam penyusunan soal TKA?
Standar Programme for International Student Assessment (PISA).
5. Apa tiga persiapan penting menghadapi TKA menurut Mendikdasmen?
Kuasai materi, siapkan strategi, dan persiapkan mental.
6. Apa moto yang digaungkan Mendikdasmen?
“Jujur dan gembira.”
7. Apa itu metode penilaian IRT?
Item Response Theory, metode penilaian yang mempertimbangkan bobot tantangan setiap soal.
8. Mengapa skor TKA menggunakan skala 200-800?
Untuk memberikan gambaran kemampuan yang lebih akurat dan menghindari asumsi persentase jawaban benar.
9. Apakah ada nilai minus di TKA?
Tidak ada nilai minus. Jawaban salah tidak mengurangi skor.
10. Apakah semua soal harus dijawab?
Ya, sebaiknya isi semua jawaban karena tidak ada pengurangan nilai.